Kakak beradik itu sedang berseteru, dibelakang kepala mereka ditumbuhi sungut
Kelamin merekalah yang membuat mereka begitu.
Siti yang sudah lebih lama hidup
Yang harusnya lebih dulu menempuh hidup baru
Meradang ia dengan joko, adik kecilnya , dulu
Terekam dalam hujatan perawan tua
Mengais belas tak jua ia terima
Cemooh memalingkan wajahnya dari pandangan
Ia perempuan yang dilangkahi
Tak tahan menjadi malu
Menetap hatinya untuk segera berlari
Mengasing diri dari yang mengenalnya
Hidupnya nelangsa
Ia dilangkahi sekali, malunya tak mari-mari*
*mari-mari=selesai-selesai,atau sembuh-sembuh,hais-habis.
19des’10
Lisvy NAEL
Dilangkahi
Sejak peristiwa kedatanganaya kerumah, suasana rumah menjadi gerah. Seperti tak ada udara segar untuk bernafas meski Cuma setengah hisap batangan hidung. Ruangan empat kali enam dengan jendela besar menatap jalan yang terhalang rindang pohon mangga yang biasanya menyegarkan, semakin sesak sempit kini tergerak.
Saat itu dia datang dengan membawa sejuta keberanian untuk mengikatkan tali dengan keluarga kami yang mengharap perubahan besar, pun pada pundaknya yang bhakan belum menjadi keluarga ini. Setelah semua mengiyakan permintaanya, kemudian ruang yang singgasana bagi sofa-sofa dan beberapa lemari hias menjadi hening. Aku bertanya padanya “apa kau yakin, Iman?”. Dengan tanpa berat dan dengan suaranya yang berat dia menjawab “pasti”.
Kepastianya menjawab pasti meruntuhkan atap duniaku. Berat dan sakit semua reruntuhan menimpa dan menenggelamkan tubuhku yang beringsut membenamkan wajah keantara dua lututku yang berjejer. Kelopak mataku hangat dan basah. Air itu merembas melewati celana jeans-ku yang bolong dibagian lutut sebelah kanan. Aku tak bisa terima mendengar semua ini. Dan langkahku bergegas menuju kamar menghiraukan suara yang terus memanggil-manggil nama Lady, namaku, atau Ladya lengkapnya. Kusumbat dengan paksa telingaku yang ingin mendengar percakapan yang terus dilanjutkan diruang tamu, tanpa aku. Kudekap semakin kuat bantal guling yang sudah lepek karena kugilas setiap malam, pun dalm tidurku. Masih deras dan bahkan semakin deras air yang terkurung dalam kelopak mataku keluar, membasahi sebagian bantal yang sedang kutumpangi. Membuatku tak nyaman sendiri, lengket wajahku tertuang air mata.
Aku terus begitu hingga kujumpai pagi mengirimkan sinyal kalau ia telah datang. Jendela yang belum sempat kututup semalam karena terlalu sibuk memeta di bantal menyilahkan sialuan matahari menerpa wajahku yang sembab, dan silauan itu sinyalnya. Aku serasa terantup oleh tawon semalam suntuk. Kantung kelopak mata bagian bawahku semakin menjadi lingkar tahun dalam penanda umur pohon. Menandaskan umurku yang memang sudah tua, berkepala tiga dalam tiga tahun lagi. Aku belum siap untuk mengingat, mendengarkan, dan memikirkan ucapan Iman semalam. Dia ingin menjadi bagian keluarga kami, tapi itu terlalu cepat. Aku belum siap, atau belum kuat tepatnya.
Ibu yang biasanya selalu memperhatikan primbon jawa, hari itu sedang menjadi seorang realistis dengan menanggalakan penanggalan jawanya yang telah lama ia punya dan ia percaya. Ingat, demi harapan besar akan hidup baru yang harus lebih Indah sejak ayah jatuh sakit dan tak bangkit lagi. Ibu yang biasanya akan berkata memelas “ngene lho ndhuk” ia memulai percakapan, perdebatan kurasa. “nek saiki nuruti primbon jawa, tapi sing wes di itung-itung ora dilakon-lakoni yo podo ae dadine”. Terangnya membela diri. Senang sebenarnya melihat ibu tidak sekolot dulu, yang selalu primbon ia dahulukan. Tapi ya kenapa harus dalam masalah ini ia luluh.
Satu minggu yang lalu tepatnya saat iman datang kerumah, dan mengubah hidupku dalam seminggu ini, bahkan akan lebih jika ia benar-benar akan bergabung dalam formasi foto keluarga. Aku menjadi diam dengan ibu yang melahirkanku sendiri, dan pada dua adiku. Belum lagi Aku akan mendapat predikat perawan tua, gak laku, kalah cekatan gaet lanangan atau apalah sejenisnya. Tapi,,,bukan begitu juga kenyataanya. Kalo dibilang perawan tua, ya tidak terlalu tua juga, aku baru 27 tahun. Kalau dibilang gak laku, lalu siapa Doni, Mifta, Nino, Anjas, Malik, dan yang lain-lain?. Kalau dibilang gak cekatan gaet laki-laki, bisa dicek lagi nama-nama yang baru kusebut tadi.
Aku berpikir lagi. Aku hidup untuk apa? Atau hidupku untuk apa? Untuk hal yang nyata atau hanya mimpi?. Sering aku tampar kesadaranku agar kembali pada kehidupan nyata, dimana yang bisa kudapat hanya nama-nama mereka. Tapi lagi-lagi aku harus tertipu dengan manisnya mimpi-mimpi yang dujanjikan sebelum fajar menyingsing. Aku masih mengharap bahwa laki-laki dengan rambut lurus hitam, alis lebat, bulu mata lentik, dan mata cokelat terang. Mewarnai wajahnya yang penuh kepesonaan, dan matanya yang penuh racun, ampuh membuatku hanya ingin tenggelam menyelami samudera matanya yang bening itu hingga aku tenang dibalik baying-bayangnya yang hitam.
Uh,,,andai Iman tak datang malam itu. Andai dia lebih sabar untuk menungguku sebentar menemukan pasanganku. Semisal saja Iman,,,ah,tapi jahat sekali aku ini mengharapkan kesedihan menimpa pada adiku yang ingin hidup bahagia dipinang Iman,pacarnya. Adiku akan menikah diumur 23, umur yang masih muda katanya. Meninggalkanku dalam duka, umurku telah 27 tahun tapi belum juga berkeluarga. Oh Tuhan,,, orang Jawa bilang aku dilangkahi. Mereka pasti menggunjingku dibelakang.
25 Des ‘10
“eL”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
make my words correct and nice to read by comment my words. please suggest me to do something for my progress.thank you mates... ^^