“Dan apabila dikatakan kepada mereka,’ janganlah berbuat kerusakan dibumi!’ mereka menjawab, ‘sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan’. Ingatlah , sesungguhnya mereka yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.”
(QS11:2)
Mengadu
Kendatipun mentari kan bangun siang dengan sendu
Air masih selalu mengalir bila akar-akar itu tak terganggu
Hujan sudah bukan musim, mereka turun sering tak tepat waktu
Kita mengeluh, mengumpat, dan kita menggerutu
Padahal tangan-tanganlah yang mengundangnya begitu
“datanglah kapan saja, bumi ini cukup luas hanya untuk menampung airmu”
Tangan jail yang mencolek mata kawan makhluknya dengan berburu hidup yang mutu.
Ada dari sebagian kami Bangun lebih pagi
Dengan berteriak dan berlari menghindar diri dari kemarahan bumi
Matahari berjingkat bersorak menyemangati banjir ini
Dibalik tirai kasih Illahi mereka memuji bukan pada diri
Melainkan pada_Nya Sang illahi
Jadilah ini mimpi buruk si pemimpin bumi.
Ya,,, Rabby betapa kuberserah diri
Dari menghinakan diri ini dengan memalinkan wajah dariMu
Aku memng merayuMu untuk kubisa tetap berdiri diakhir hari
Supaya nanti aku masuk dalam daftar umat nabi
Ya,,, Rabby betapa kuberserah diri
Dari perlakuan terhadap semesta ini
Mereka yang selalu bertaawaf memujiMu kami usik lagi
Tak hendak sakiti, tapi ternyata memang semua tersakiti
Kini tinggal hari menanti, menanti kehancuran yang disesali
14 Okt 2010
Vidya Meutya Sabila
Waktu telah memupuk manusia menjadi hamba-hamba tuhan-tuhanya. Bukan waktu yang salah saat manusia bertuhan bukan pada Tuhan. Demi lambung yang terisi, tuhan-tuhan dibuat dalam diri dengan alasan tersendiri. Bila periuk tak juga terisi maka hati menjadi gelisah tak terperi, belum lagi untuk buah hati, malang menjadi nasib hari ini dan nanti.
Pada pagi hari saat mata adalah untuk membuka diri pada dunia yang harus dihadapi, khawatir muncul lagi sebagai reaksi bimbang yang belum pergi dari pikiran yang jauh saat tubuh belum terbaring dalam peristirahatan semalam. Kemudian mulailah mereka menyiangi akal mereka dengan sebuah pengertian dan pengetahuan baru yang harus dicari. Saat pertama mereka adalah hanya berburu dan meramu, mereka telah memulai sebuah keegoisan diri. Mematikan nafas mahluk lain untuk memenuhi hasrat lambung. Mengarahkan para pemilik rahim untuk mengolah hasil pembantaian mereka terhadap mahluk yang berkaki empat atau mahluk-mahluk yang terbang dan berenang. Tak pernah ada larangan untuk itu sebenarnya, hanya kemudian iblis telah membisikan sebuah hembusan nafas yang berisi kedirian lewat telinga dan bermuara didalam sekerat daging merah yang tersebut sebagai hati. Tak pernah ada larangan sesungguhnya karena itu, karena seperti para ikan sang perenang yang lebih banyak dari pada susunan bintang dilangit bumi seperti kata mullah Nasruddin.
Saat mereka mulai menegakan badan yang digambarkan seorang Darwin, saat itu pula hasrat lain dan dengan cara lain mulai melompat-lompat dalam pikiran mereka yang volume cairan dalam tempurung kepalanya semakin meningkat, seperti yang di jelaskan para arkelog. “Biarkan pembahasan ini tetap berlanjut tentang yang kumaksud,jangan menyelaku karena seorang Darwin”. Saat volume cairan didalam tempurung kepala mereka meningkat, perburuan tangan telah beranjak dengan segala bebetuan dan logam yang mereka lihat. Tetapi berinti sama :mematikan sasaran demi kelangsungan masa depan. Bayang-bayang pertikaian mulai menapak tentang hal menguasai seberapa besar atau luas kekuasaan domain. Kedamaian didapatkan dengan mengobarkan bara kebisingan, tak ada toleransi untuk yang bukan kawan.
Sang waktu terus menggulirkan bola salju dalam garis dimensi ruang. Mahluk bertempurung cairan yang menakutkan itupun semakin banyak, dan hal-hal anehpun semakin melejit-lejit didalamnya. Batu-batu dengan material-material bumi dicampurkan dan jadilah gedung-gedung yang tinggi. Tanah mulai langka, apalagi air. Kemudian mulai melintas dalam aliran-aliran pikiran untuk menjadikanya takan pernah habis,, dan jadilah seharusnya benda-benda atau bahkan air yang selelu berputar dari tanahtanah yang diukir (kendi dan teko)mulutperutdan tanah lagi hingga perut lagi. Katanya itu teknologi, yah sepertinya. Berdo’a kini telah menjadi orientasi,lagi. Setelah mempercayainya adalah hal bodoh yang dicemooh, hal aneh yang remeh, hal lucu yang rancu, dan mustahil menjadi wajar.
“alhamdulillah,kupikir tulisan ini udah cukup,,,” ucap Vidya setelah mengetik sebuah titik yang berarti selesai dalam beberapa susunan kalimatnya. Kemudian ia memejamkan matanya tak lebih dari lima menit untuk mengusir rasa-rasa tak nyaman. Sekarang yang terpikirkan Vidya adalah mengerjakan pe-er Fisikanya yang belum tersentuh sama sekali sejak dua hari yang lalu, padahal hari pengumpulanya tinggal sehari lagi. Nama mbah Kepler mulai ia sebut-sebut, tentang perputaran bumi. Susunan-susunan huruf yang tak wajar dan bukan kata mulai terangkai, membentangkan altar bagi deretan angka-angka yang ternolkan sejuta. Membedah rangkaian neuron dendrit dan segala unit yang terus bekerja demi terhentinya pena untuk menulis titik. Sensorik yang juga takk henti menyampaikan pesan-pesan dengan setia. Kemudian dalam satuan waktu yang terdiri dari yang diukur dengan seberapa kali sebuah jarum melingkar berputar atau berdetak, 3600 kali pemberhentian sesaat yang disebut dalam satu jam Vidya telah menyepakati pe-er fisikanya telah sampai ke garis finish. Namun ia sedikit ragu dan kembali menginterogasi susunan dan deret-deret simbol diatas kertas yang ia tuliskan “benarkah sudah posisimu disana hah ?” ia tampak sinting menanyakan pada simbol-simbol yang dilukis diatas kertasnya, Vidya tertawa sumringah, telah sepakat dan mempercayai cairan dalam tempurung kepalanya telah menyusun dengan rapih dan semestinya disetujui oleh banyak orang didunia yang menganutnya. “kurasa tidak akan ada masalah dengan bahasa dan sastra Indonesia besok” gumamnya melihat kembali daftar mata pelajaran unuk hari esok, sambil menganggug-angguk memorinya menghantarkan pada informasi dia sudah mengerjakan pe-er puisinya.
Masih ada saatu mata pelajaran untuk esok hari yang musti dipersiapkan, biologi. Dan saatu yang menjadi bab favoritnya untuk membuka buku biologinya, bab REPRODUKSI. Dengan jari-jarinya yang tak nampak panjang ia membuka-buka dan membolak-balikan bukunya sembari mengusap-usap pada beberapa gambar skematis, gambar sebuah bayi dalam rahim wanita yang mulai terbentuk dari nutfah yang bertemu ovumkemudian menjadi embrio dan berakhir menjadi janin. Matanya tiba-tiba terasa hangat dan justru basah, diatas pipinya yang sering disebut seperti ‘apem’ jenis jajanan tradisional yang tak ada rasa tapi tetap saja digemari pada masing-masing sisinya tergaris sebuah garis yang tak nampak nyata. “ya Alloh,,,lucunya,ajaib bisa ada kehidupan didalam kehidupan yang gelap” komentarnya demi melihat gambar-gambar janin itu. Dan kemudian ia berkata-kata lagi “oh ya,emang didalam rahim itu gelap yah? Apakah ada cahaya khusus yang ditaruh Tuhan didalamnya? Tapi kok kayaknya aku lupa,,” kemudian terlihat didahinya beberapa gurat melengkung, bibirnyapun tertutup rapat datar. Ia menjadi risau dengan pertanyaanya sendiri “apakah dulu dirahimm aku pernah bercakap-cakap engan Tuhabku? ok Kalau begitu aku sangat ingin kembali kesana atau sekedar dapat mengingatnya”. Kemudian terbit kembali dari balik bibirnya sebentuk senyum. Dia telah memerintahkan seluruh jaringan yang bertugas menerima dan mengantarkan pesan untuk menghentikan menyiram pipinya dengan air mata.
Dan lalu ia membuka diri untuk menyilahkan pemandangan pekat malam untuk menghiasi matanya dari atas atap rumahnya. Ia teringat lagi tentang mbah Keplernya. “Indahnya bila semua bisa kusukuri” gumamnya dalam hati. “oawh,,,,,” Vidya menguap lebar, tanda kalu tubuhnya ingin rehat. Namun teringat lagi akan pertempuranya esok hari dengan biologi, bukan bab reproduksi esook hari untuk jadi bahan diskusi, tapi ekosistem hayati, memang adakah ekosistem nonhayati kalau begitu?
Dalam satu jam yang ia sisihkan sejenak untuk buku biologinya, kini sudah menempati lokus-lokusnya masing-masing didalam organ yang berbentuk tak karuan didalam batok tempurung kepalanya. Bagaimana ia masih hafal dengan letak tiap-tiap kata-kata yang berarti pengetahuan didalam lokus otaknya. Hujan yang merupakan produk dari segala macam cairan yang terbentang diatas bumi luas yang dicium olaeh terik matahari. Air yang setelah dicium terik itu kemudian menggeliat manja dan adapula yang berdiri marah merasa terhina dan terus berlari keaarah awan yang sedang menonton pemandangan itu. Awan yang dengan senang hati menerima kedatangan air dari bumi yang hendak bertutur mengadukan perlakuan bumi ini dengan sukarela memberikan tumpangan baginya untuk bermigrasi, turunlah air kembali kebumi dengan nama baru air hujan.
Lagi-lagi air harus dibicarakan. Bagaimana tidak? Ia selalu hadir disetiap pembicaraan yang dengan niat sengaja padahal sedang tak ingin kubicarakan. Ia berada disekitar kita, berada bahkan lebih dekat dengan orang yang paling kita kasihi, dan bagaimana mungkin kita dapat berkasih jika kita tak ada dan tak dekat dengan air ini? Darah.oh, salah cerita, tak ada darah dalam pembahasan ekosisem yang sedang sedang Vidya baca. Air ini mengalir dalam pembuluh-pembuluh bumi yang terbagi-bagi dalam tiap gembur tanah yang tergaris oleh anakan-anakan sungai raksasa maupun kerdil didalam maupun diluar gelimpangan bebatuan besar, kecil, dan halus cokelat tanah. Kemudian air itu dengan perlahan meremebas dan naik kedalam pundak-pundak dan puncak-puncak pepohonan dan segala macam dedaunan. Air ini terus memberikan suplai hidup bagi pepohonan ini dan semakin lama membuat pohon-pohon itu semakin dekat,erat dan lekat memeluk bumi. Keeratan pelukan ini pula telah membuat bumi tersanjung dan tetap mempertahankan dan mengupayakan supaya pelukan sang pohon kan terus. Bumi pun semakin meras tumbuh dalam hatinya rasa cinta terhadap air yang memberikan pohon-pohon itu hidup. Mereka berpegangan tangan dan berpelukan erat. Namun setelah para tangan makelar kuburan datang dan menggulingkan pohon-pohon dan memaksanya untuk melepaskan pelukannya dengan para kekasihnya. Keterusan ini mulai meresahkan dan mennyakiti bagi air dan bumi. Ikatan mereka tak lagi kuat tanpa si pohon. Dan jadilah mereka tergelontor menyapu pelupuk mata bumi yang terhampar diatasnya kehidupan para manusia. Sibuklah manusia-manusia dengan bencana yang mereka bikin sendiri. Dan sibuklah mereka juga dengan saling menyalahkan.
Belum lagi selesai dengan bencana yang sedang melanda, mereka selalu dibayang-bayangi dengan wajah bumi di masa nanti yang pucat pasi oleh lumatan air yang meninggi akan perlahan menguburkan kaki-kaki, es-es dikutub mencair, oleh usaha mereka sendiri yang menghias langit dengan corak-corak hitam dan abu-abu dengan segenap polusi yang ditiup dari mulut-mulut cerobong asap dari pabrik-pabrik dan knalpot-knalpot kendaraan. Dan lagi-lagi air manjadi sasaran, ia sumpek dengan pencemaran yang mulai menutupi permukaanya hingga kedasar. Membuatnya terdesak dan semakin mati perlahan. Dan semakin kacau ekosistem. Dan semakin manusia-manusia telah mencoba bunuh diri dengan bersenang-senag memuaskan perut dan kelamin dari hasil menjual dan rumah mereka. Dan semakin itu hadir dalam tatanan yang sebetulnya tak pernah kita inginkan dalam kehidupan kita, kiamat global warming. Dan sudah Vidya rasa untuk mencukupkan penjelajahan dalam lokus-lokus didalam tempurung kepalanya, dan menutup malamnya dengan sebuah mantra “bismika allahumma amut wabismika ahya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
make my words correct and nice to read by comment my words. please suggest me to do something for my progress.thank you mates... ^^