#1 To Ummi
Dear
Ummi,
Ummi, aku menyebutmu sebagai salah satu terkasihku.
Semoga taufiq hidayah selalu tercurah bagimu, sehat jasmani dan sukmamu hingga
semerbak kasturi tiada menang berbanding dengan keharuman yang engkau pancarkan
dari waktu ke waktu yang melesat merasuki jiwaku hingga saatnya nanti pun aku
menjadi ibu, aku yakin harum itu takkan pernah luntur dari inderaku dan
kenanganku. Ummi, semoga di surga firdaus, Allah mencintai kita dan kembali
menyatukan kita. Semoga Allah selalu mencitaimu dan cintamu pun takkan pernah
merasa terabai.
Ummi, kepadamulah aku menadah seolah engkau langit
yang mencurahkan hujan ke bumi. Engkau segalaku setelah Sang Segala. Ummi,
engkaulah taruhan terbesarku bahwa takkan ada bahagia untukku tanpa sebait do’a
darimu, dan setiap nafas yang terhela adalah do’a itu sendiri. Engkaulah cinta
terbesar yang ku tuju setelah Sang Cinta itu sendiri. Ummi, semoga aku adalah
jalan yang dikirim Allah agar surga yang ada di telapak kakimu kan berjalan
dengan suka citanya dan aku akan sangat bahagia menjadi jalan itu. Ummi,
engkaulah cahaya yang mampu menerangiku setelah Sang Cahaya. Ummi, kepadamulah
kembaliku sebelum ku kembali pada Allah sang pemilik utuh hati dan hidup ini.
Ummi, semoga aku adalah asa yang mampu kau peluk dalam senyum yang terridho
Allah.
Ummi, lidahku terlampau kelu untuk menyebut kata per
kata wakil baktiku. Kosa kataku terlalu sedikit walau semua bahasa jika pun ku
mampu untuk nyatakan cinta ini bagimu. Pengetahuanku tak lebih luas dari jari
kelingkingku untuk menunjuk keindahan yang sebanding denganmu setelah Sang
Keindahan. Ummi, engkau nomor satu, nomor satu, dan nomor satu setelah Sang
Satu. Ummi, hati ini serasa bergemuruh manakala kusebut namamu dalam hati
setelah Maha Penggetar hati. Ummi, langkahku tiada terhenti untuk meraih
ridhomu, karena ridhomu adalah ridho Allah. Ummi, ingatan ini tak cukup panjang
untuk mengingat segala yang pernah terlintas dan terlalu, tapi untukmu selalu
ada ruang yang membuatmu abadi dalam ingatan, abadi setelah Sang Abadi itu
sendiri. Ummi, rindu ini meluap hingga keluar bumi, rindu yang terpasung dan
tak juga terbebas untuk bersua denganmu di negeri rantau ini, rindu terluas
setelah rinduku pada pemilik taman abadi, rindu untuk berusa dengan-Nya terurut
diatasmu. Ummi, bila bulan terbelah, takkan ada yang ingin ku lihat selainmu
setelah Nya.
Begitu berat cinta yang ku tanggung dan ku pikul
sebagai bekal darimu merantau di negeri yang ku sendiri di sini. Cinta yang
begitu berat hingga membebaskanku dari rasa cemas mengecewakanmu berkali dan
berulang. Tiada waktu yang ku tempuh telah mampu mengukir senyum di bibir
keringmu untuk waktu yang tertahan lama. Dua puluh tiga tahun tak memberikan
apa pun selain garam yang mengasinkan perjalanan, di sana pun ada sedikit kekhawatiran
ada garam-garam yang tercecer hingga takkan dapat ku persembah berikan kepadamu
sebagai bukti aku di sini tidaklah berniat memalingkan punggung darimu Ummi,
tapi apalah yang mampu ku katakana lagi ketika iman ini tak cukup membentengi
untuk terkadang berlari menyusuri jalan yang tak ada dirimu.
Malam-malam panjang tentang ingatanmu adalah yang
paling biru yang ku miliki. bantal-bantal yang basah kena air mata rindu dan
permaafan karena tiada mampu memandang wajahmu lekat dan dekat karena aku masih
saja membatu menjauh jarak denganmu. Bukan aku tak cinta, tapi cintamu itulah
yang membuatku candu untuk menumbuhkan ketertarikan pada padang rumput hijau
yang tiada ku temui di bukit-bukit di sekeliling rumah kita, atau pantai-pantai
dan laut-laut yang asin dan hijau biru airnya. Ummi, ku katakana lagi, rindu
ini telah menganak sungai dan mengaliri ladang-ladang pun sawah-sawah yang
semakin menyuburkan rindu itu sendiri padamu. Tiada yang lain ku cinta selain
dirimu setelah Sang Cinta.
Tangan yang biasanya menyuapkan nasi dengan sayur
yang tiada bernama seperti di restoran-restoran, tanganmu Ummi yang ku maksud
dan berharap untuk terus kau suapi tapi itu tak mungkin. Aku sudah pandai
berlari, bahkan terjatuh berkali-kali sudah ku bangkit lagi. Kali ini, jauh
dalam lubuk hati ada sebuah sesal yang segera ingin ku tebus. Satu tahun aku
tak berani menghadapkan wajah padamu. Tak ada kabar yang terlalu indah untuk ku
beri untukmu. Aku tahu Ummi, hadiah dari anak takkan terlalu terasa berarti dan
penting bagi si anak, tapi akan selalu teraa indah bagimu. Tapi Ummi, senyum
yang tersimpul kala ku merajuk. Lirik matamu kala lidahku kesleo. Pelukanmu kala
kita berhadap sambil memejam mata di atas dipan kamar tengah. Panggilan rutin
disetiap subuh. Tawar untuk segera bersantap makan. Hal-hal itu yang pada
akhirnya kusesali karena aku tak kunjung pulang dan memberikan waktu yang
pantas untuk kuhabiskan bersamamu walau sekejap saja. Terlalu naif untuk ingin Nampak
sempurna dan menghadiahkan kesempurnaan yang tiada milik siapapun kecuali Sang
Maha.
Ummi, ku uluk do’a terpanjang dalam malam-malam
kehadirat-Nya untuk keselamatanmu. Orang yang diutus Allah menjadi malaikatku
dan mengarahkanku pada jalan ikhsan. Semoga waktu yang telah berlalu menjadi
saksi yang akan mengiringimu kelak ke pintu firdaus. Ummi, belum ada
hadiah-hadiah kecil yang mampu ku berikan untuk sedikit saja menyenangkan,
namun engkau selalu saja merendah hati meminta maaf karena merasa belum berlaku
lebih baik padaku. Maafkan aku karena itu Ummi, terus membuatmu merasa seperti
itu.
Tidak pernah ku jumpai sebentuk kesabaran yang
sempurna selain kesabaran yang pernah engkau contohkan padaku Ummi. Berpuluh tahun
menjaga dan merawat kami sebagai barang suci yang harus engkau lindungi hingga
kami meluaskan langkah kami dan engkau selalu bersama kami dalam do’a-do’a
panjang setiap waktu agar kami tak pernah salah menikung. Tak ada kasih sayang
yang mampu menggetarkan hati ini dan merasa hidup benar-benar indah karena
dicintai selain kasih sayang dan cinta yang kau berikan pada kami Ummi. Aku sering
melihat sikap tunjuk kasih cinta namun tak mampu melampaui dari simpati yang ku
rasakan, tetapi kasih cinta darimu aku merasakannya sampai sum-sumku selalu
tergetar mengucap syukur. Ummi, terkadang aku ingin bertanya “lelahkah kau
menjagaku?” tetapi sebelum sempat aku bertanya, akan selalu ada do’amu yang
engkau panjat sebagai jawab betapa bersyukurnya engkau bisa merawat kami. Aku memang
pernah mendengarmu mengeluh sekali dua kali tentang kami yang engkau rasa sedang
jauh dari jalan yang Dia tunjuk melalui arahanmu, tetapi itu sungguh kesyukuran
bagi kami karena engkau selalu mengingatkan.
Ummi, sudah ku katakana diawal jikalau lidahku terlalu kelu untuk
menyebut segala cinta rindu ini untukmu. Maka hanya tulisan singkat ini sebagai
bentuk permintaan maaf dan syukur ku titipkan lewat angina yang diutus Allah
semoga engkau merasakannya. Karena aku pun tak membeiarkanmu membaca langsung. Semoga
engkau merasakan cinta dan rindu yang ku salamkan ini bersama desir angin. Bakti
yang belum mampu ku hadiahkan padamu, bersabarlah Ummi dan teruslah percaya
serta do’akan nandamu ini untuk mampu mewujudkan bakti kecil yang takkan pernah
mampu membayar segala khidmat pengabdianmu pada-Nya dengan mencintaiku,
mencintai kami putra dan putrimu.
Dengan
cinta tak terkira,
Nandamu,
Lisvi
Naelati Fadlillah