Minggu, 13 Juli 2014

Surat untuk Terkasih


 #1 To Ummi

Dear Ummi, 

Ummi, aku menyebutmu sebagai salah satu terkasihku. Semoga taufiq hidayah selalu tercurah bagimu, sehat jasmani dan sukmamu hingga semerbak kasturi tiada menang berbanding dengan keharuman yang engkau pancarkan dari waktu ke waktu yang melesat merasuki jiwaku hingga saatnya nanti pun aku menjadi ibu, aku yakin harum itu takkan pernah luntur dari inderaku dan kenanganku. Ummi, semoga di surga firdaus, Allah mencintai kita dan kembali menyatukan kita. Semoga Allah selalu mencitaimu dan cintamu pun takkan pernah merasa terabai.
Ummi, kepadamulah aku menadah seolah engkau langit yang mencurahkan hujan ke bumi. Engkau segalaku setelah Sang Segala. Ummi, engkaulah taruhan terbesarku bahwa takkan ada bahagia untukku tanpa sebait do’a darimu, dan setiap nafas yang terhela adalah do’a itu sendiri. Engkaulah cinta terbesar yang ku tuju setelah Sang Cinta itu sendiri. Ummi, semoga aku adalah jalan yang dikirim Allah agar surga yang ada di telapak kakimu kan berjalan dengan suka citanya dan aku akan sangat bahagia menjadi jalan itu. Ummi, engkaulah cahaya yang mampu menerangiku setelah Sang Cahaya. Ummi, kepadamulah kembaliku sebelum ku kembali pada Allah sang pemilik utuh hati dan hidup ini. Ummi, semoga aku adalah asa yang mampu kau peluk dalam senyum yang terridho Allah. 

Ummi, lidahku terlampau kelu untuk menyebut kata per kata wakil baktiku. Kosa kataku terlalu sedikit walau semua bahasa jika pun ku mampu untuk nyatakan cinta ini bagimu. Pengetahuanku tak lebih luas dari jari kelingkingku untuk menunjuk keindahan yang sebanding denganmu setelah Sang Keindahan. Ummi, engkau nomor satu, nomor satu, dan nomor satu setelah Sang Satu. Ummi, hati ini serasa bergemuruh manakala kusebut namamu dalam hati setelah Maha Penggetar hati. Ummi, langkahku tiada terhenti untuk meraih ridhomu, karena ridhomu adalah ridho Allah. Ummi, ingatan ini tak cukup panjang untuk mengingat segala yang pernah terlintas dan terlalu, tapi untukmu selalu ada ruang yang membuatmu abadi dalam ingatan, abadi setelah Sang Abadi itu sendiri. Ummi, rindu ini meluap hingga keluar bumi, rindu yang terpasung dan tak juga terbebas untuk bersua denganmu di negeri rantau ini, rindu terluas setelah rinduku pada pemilik taman abadi, rindu untuk berusa dengan-Nya terurut diatasmu. Ummi, bila bulan terbelah, takkan ada yang ingin ku lihat selainmu setelah Nya.

Begitu berat cinta yang ku tanggung dan ku pikul sebagai bekal darimu merantau di negeri yang ku sendiri di sini. Cinta yang begitu berat hingga membebaskanku dari rasa cemas mengecewakanmu berkali dan berulang. Tiada waktu yang ku tempuh telah mampu mengukir senyum di bibir keringmu untuk waktu yang tertahan lama. Dua puluh tiga tahun tak memberikan apa pun selain garam yang mengasinkan perjalanan, di sana pun ada sedikit kekhawatiran ada garam-garam yang tercecer hingga takkan dapat ku persembah berikan kepadamu sebagai bukti aku di sini tidaklah berniat memalingkan punggung darimu Ummi, tapi apalah yang mampu ku katakana lagi ketika iman ini tak cukup membentengi untuk terkadang berlari menyusuri jalan yang tak ada dirimu. 

Malam-malam panjang tentang ingatanmu adalah yang paling biru yang ku miliki. bantal-bantal yang basah kena air mata rindu dan permaafan karena tiada mampu memandang wajahmu lekat dan dekat karena aku masih saja membatu menjauh jarak denganmu. Bukan aku tak cinta, tapi cintamu itulah yang membuatku candu untuk menumbuhkan ketertarikan pada padang rumput hijau yang tiada ku temui di bukit-bukit di sekeliling rumah kita, atau pantai-pantai dan laut-laut yang asin dan hijau biru airnya. Ummi, ku katakana lagi, rindu ini telah menganak sungai dan mengaliri ladang-ladang pun sawah-sawah yang semakin menyuburkan rindu itu sendiri padamu. Tiada yang lain ku cinta selain dirimu setelah Sang Cinta. 

Tangan yang biasanya menyuapkan nasi dengan sayur yang tiada bernama seperti di restoran-restoran, tanganmu Ummi yang ku maksud dan berharap untuk terus kau suapi tapi itu tak mungkin. Aku sudah pandai berlari, bahkan terjatuh berkali-kali sudah ku bangkit lagi. Kali ini, jauh dalam lubuk hati ada sebuah sesal yang segera ingin ku tebus. Satu tahun aku tak berani menghadapkan wajah padamu. Tak ada kabar yang terlalu indah untuk ku beri untukmu. Aku tahu Ummi, hadiah dari anak takkan terlalu terasa berarti dan penting bagi si anak, tapi akan selalu teraa indah bagimu. Tapi Ummi, senyum yang tersimpul kala ku merajuk. Lirik matamu kala lidahku kesleo. Pelukanmu kala kita berhadap sambil memejam mata di atas dipan kamar tengah. Panggilan rutin disetiap subuh. Tawar untuk segera bersantap makan. Hal-hal itu yang pada akhirnya kusesali karena aku tak kunjung pulang dan memberikan waktu yang pantas untuk kuhabiskan bersamamu walau sekejap saja. Terlalu naif untuk ingin Nampak sempurna dan menghadiahkan kesempurnaan yang tiada milik siapapun kecuali Sang Maha.

Ummi, ku uluk do’a terpanjang dalam malam-malam kehadirat-Nya untuk keselamatanmu. Orang yang diutus Allah menjadi malaikatku dan mengarahkanku pada jalan ikhsan. Semoga waktu yang telah berlalu menjadi saksi yang akan mengiringimu kelak ke pintu firdaus. Ummi, belum ada hadiah-hadiah kecil yang mampu ku berikan untuk sedikit saja menyenangkan, namun engkau selalu saja merendah hati meminta maaf karena merasa belum berlaku lebih baik padaku. Maafkan aku karena itu Ummi, terus membuatmu merasa seperti itu. 

Tidak pernah ku jumpai sebentuk kesabaran yang sempurna selain kesabaran yang pernah engkau contohkan padaku Ummi. Berpuluh tahun menjaga dan merawat kami sebagai barang suci yang harus engkau lindungi hingga kami meluaskan langkah kami dan engkau selalu bersama kami dalam do’a-do’a panjang setiap waktu agar kami tak pernah salah menikung. Tak ada kasih sayang yang mampu menggetarkan hati ini dan merasa hidup benar-benar indah karena dicintai selain kasih sayang dan cinta yang kau berikan pada kami Ummi. Aku sering melihat sikap tunjuk kasih cinta namun tak mampu melampaui dari simpati yang ku rasakan, tetapi kasih cinta darimu aku merasakannya sampai sum-sumku selalu tergetar mengucap syukur. Ummi, terkadang aku ingin bertanya “lelahkah kau menjagaku?” tetapi sebelum sempat aku bertanya, akan selalu ada do’amu yang engkau panjat sebagai jawab betapa bersyukurnya engkau bisa merawat kami. Aku memang pernah mendengarmu mengeluh sekali dua kali tentang kami yang engkau rasa sedang jauh dari jalan yang Dia tunjuk melalui arahanmu, tetapi itu sungguh kesyukuran bagi kami karena engkau selalu mengingatkan. 

Ummi, sudah ku katakana  diawal jikalau lidahku terlalu kelu untuk menyebut segala cinta rindu ini untukmu. Maka hanya tulisan singkat ini sebagai bentuk permintaan maaf dan syukur ku titipkan lewat angina yang diutus Allah semoga engkau merasakannya. Karena aku pun tak membeiarkanmu membaca langsung. Semoga engkau merasakan cinta dan rindu yang ku salamkan ini bersama desir angin. Bakti yang belum mampu ku hadiahkan padamu, bersabarlah Ummi dan teruslah percaya serta do’akan nandamu ini untuk mampu mewujudkan bakti kecil yang takkan pernah mampu membayar segala khidmat pengabdianmu pada-Nya dengan mencintaiku, mencintai kami putra dan putrimu.

Dengan cinta tak terkira,
Nandamu,

Lisvi Naelati Fadlillah

Pengikut