Minggu, 13 Juli 2014

Surat untuk Terkasih


 #1 To Ummi

Dear Ummi, 

Ummi, aku menyebutmu sebagai salah satu terkasihku. Semoga taufiq hidayah selalu tercurah bagimu, sehat jasmani dan sukmamu hingga semerbak kasturi tiada menang berbanding dengan keharuman yang engkau pancarkan dari waktu ke waktu yang melesat merasuki jiwaku hingga saatnya nanti pun aku menjadi ibu, aku yakin harum itu takkan pernah luntur dari inderaku dan kenanganku. Ummi, semoga di surga firdaus, Allah mencintai kita dan kembali menyatukan kita. Semoga Allah selalu mencitaimu dan cintamu pun takkan pernah merasa terabai.
Ummi, kepadamulah aku menadah seolah engkau langit yang mencurahkan hujan ke bumi. Engkau segalaku setelah Sang Segala. Ummi, engkaulah taruhan terbesarku bahwa takkan ada bahagia untukku tanpa sebait do’a darimu, dan setiap nafas yang terhela adalah do’a itu sendiri. Engkaulah cinta terbesar yang ku tuju setelah Sang Cinta itu sendiri. Ummi, semoga aku adalah jalan yang dikirim Allah agar surga yang ada di telapak kakimu kan berjalan dengan suka citanya dan aku akan sangat bahagia menjadi jalan itu. Ummi, engkaulah cahaya yang mampu menerangiku setelah Sang Cahaya. Ummi, kepadamulah kembaliku sebelum ku kembali pada Allah sang pemilik utuh hati dan hidup ini. Ummi, semoga aku adalah asa yang mampu kau peluk dalam senyum yang terridho Allah. 

Ummi, lidahku terlampau kelu untuk menyebut kata per kata wakil baktiku. Kosa kataku terlalu sedikit walau semua bahasa jika pun ku mampu untuk nyatakan cinta ini bagimu. Pengetahuanku tak lebih luas dari jari kelingkingku untuk menunjuk keindahan yang sebanding denganmu setelah Sang Keindahan. Ummi, engkau nomor satu, nomor satu, dan nomor satu setelah Sang Satu. Ummi, hati ini serasa bergemuruh manakala kusebut namamu dalam hati setelah Maha Penggetar hati. Ummi, langkahku tiada terhenti untuk meraih ridhomu, karena ridhomu adalah ridho Allah. Ummi, ingatan ini tak cukup panjang untuk mengingat segala yang pernah terlintas dan terlalu, tapi untukmu selalu ada ruang yang membuatmu abadi dalam ingatan, abadi setelah Sang Abadi itu sendiri. Ummi, rindu ini meluap hingga keluar bumi, rindu yang terpasung dan tak juga terbebas untuk bersua denganmu di negeri rantau ini, rindu terluas setelah rinduku pada pemilik taman abadi, rindu untuk berusa dengan-Nya terurut diatasmu. Ummi, bila bulan terbelah, takkan ada yang ingin ku lihat selainmu setelah Nya.

Begitu berat cinta yang ku tanggung dan ku pikul sebagai bekal darimu merantau di negeri yang ku sendiri di sini. Cinta yang begitu berat hingga membebaskanku dari rasa cemas mengecewakanmu berkali dan berulang. Tiada waktu yang ku tempuh telah mampu mengukir senyum di bibir keringmu untuk waktu yang tertahan lama. Dua puluh tiga tahun tak memberikan apa pun selain garam yang mengasinkan perjalanan, di sana pun ada sedikit kekhawatiran ada garam-garam yang tercecer hingga takkan dapat ku persembah berikan kepadamu sebagai bukti aku di sini tidaklah berniat memalingkan punggung darimu Ummi, tapi apalah yang mampu ku katakana lagi ketika iman ini tak cukup membentengi untuk terkadang berlari menyusuri jalan yang tak ada dirimu. 

Malam-malam panjang tentang ingatanmu adalah yang paling biru yang ku miliki. bantal-bantal yang basah kena air mata rindu dan permaafan karena tiada mampu memandang wajahmu lekat dan dekat karena aku masih saja membatu menjauh jarak denganmu. Bukan aku tak cinta, tapi cintamu itulah yang membuatku candu untuk menumbuhkan ketertarikan pada padang rumput hijau yang tiada ku temui di bukit-bukit di sekeliling rumah kita, atau pantai-pantai dan laut-laut yang asin dan hijau biru airnya. Ummi, ku katakana lagi, rindu ini telah menganak sungai dan mengaliri ladang-ladang pun sawah-sawah yang semakin menyuburkan rindu itu sendiri padamu. Tiada yang lain ku cinta selain dirimu setelah Sang Cinta. 

Tangan yang biasanya menyuapkan nasi dengan sayur yang tiada bernama seperti di restoran-restoran, tanganmu Ummi yang ku maksud dan berharap untuk terus kau suapi tapi itu tak mungkin. Aku sudah pandai berlari, bahkan terjatuh berkali-kali sudah ku bangkit lagi. Kali ini, jauh dalam lubuk hati ada sebuah sesal yang segera ingin ku tebus. Satu tahun aku tak berani menghadapkan wajah padamu. Tak ada kabar yang terlalu indah untuk ku beri untukmu. Aku tahu Ummi, hadiah dari anak takkan terlalu terasa berarti dan penting bagi si anak, tapi akan selalu teraa indah bagimu. Tapi Ummi, senyum yang tersimpul kala ku merajuk. Lirik matamu kala lidahku kesleo. Pelukanmu kala kita berhadap sambil memejam mata di atas dipan kamar tengah. Panggilan rutin disetiap subuh. Tawar untuk segera bersantap makan. Hal-hal itu yang pada akhirnya kusesali karena aku tak kunjung pulang dan memberikan waktu yang pantas untuk kuhabiskan bersamamu walau sekejap saja. Terlalu naif untuk ingin Nampak sempurna dan menghadiahkan kesempurnaan yang tiada milik siapapun kecuali Sang Maha.

Ummi, ku uluk do’a terpanjang dalam malam-malam kehadirat-Nya untuk keselamatanmu. Orang yang diutus Allah menjadi malaikatku dan mengarahkanku pada jalan ikhsan. Semoga waktu yang telah berlalu menjadi saksi yang akan mengiringimu kelak ke pintu firdaus. Ummi, belum ada hadiah-hadiah kecil yang mampu ku berikan untuk sedikit saja menyenangkan, namun engkau selalu saja merendah hati meminta maaf karena merasa belum berlaku lebih baik padaku. Maafkan aku karena itu Ummi, terus membuatmu merasa seperti itu. 

Tidak pernah ku jumpai sebentuk kesabaran yang sempurna selain kesabaran yang pernah engkau contohkan padaku Ummi. Berpuluh tahun menjaga dan merawat kami sebagai barang suci yang harus engkau lindungi hingga kami meluaskan langkah kami dan engkau selalu bersama kami dalam do’a-do’a panjang setiap waktu agar kami tak pernah salah menikung. Tak ada kasih sayang yang mampu menggetarkan hati ini dan merasa hidup benar-benar indah karena dicintai selain kasih sayang dan cinta yang kau berikan pada kami Ummi. Aku sering melihat sikap tunjuk kasih cinta namun tak mampu melampaui dari simpati yang ku rasakan, tetapi kasih cinta darimu aku merasakannya sampai sum-sumku selalu tergetar mengucap syukur. Ummi, terkadang aku ingin bertanya “lelahkah kau menjagaku?” tetapi sebelum sempat aku bertanya, akan selalu ada do’amu yang engkau panjat sebagai jawab betapa bersyukurnya engkau bisa merawat kami. Aku memang pernah mendengarmu mengeluh sekali dua kali tentang kami yang engkau rasa sedang jauh dari jalan yang Dia tunjuk melalui arahanmu, tetapi itu sungguh kesyukuran bagi kami karena engkau selalu mengingatkan. 

Ummi, sudah ku katakana  diawal jikalau lidahku terlalu kelu untuk menyebut segala cinta rindu ini untukmu. Maka hanya tulisan singkat ini sebagai bentuk permintaan maaf dan syukur ku titipkan lewat angina yang diutus Allah semoga engkau merasakannya. Karena aku pun tak membeiarkanmu membaca langsung. Semoga engkau merasakan cinta dan rindu yang ku salamkan ini bersama desir angin. Bakti yang belum mampu ku hadiahkan padamu, bersabarlah Ummi dan teruslah percaya serta do’akan nandamu ini untuk mampu mewujudkan bakti kecil yang takkan pernah mampu membayar segala khidmat pengabdianmu pada-Nya dengan mencintaiku, mencintai kami putra dan putrimu.

Dengan cinta tak terkira,
Nandamu,

Lisvi Naelati Fadlillah

Kamis, 26 Desember 2013



Judul Novel                 : Kisah Langit; Seberkas Biru di Jendela Leiden
Penulis                         : Arum Effendi
Peneribit                      : Qanita
Cetakan                       : Pertama, Juli 2013
Jumlah Halaman          : 321 Halaman
ISBN                           : 978-602-9225-91-4
Peresesnsi                   : Lisvi Naelati Fadlillah, Penggiat komunitas Penikmat Buku                       BOOKLICIOUS Kota Malang dan Pesincta Riset dan Penulisan (PERS) FISIP UMM.
Cover buku                 :


Sebuah Kisah, Selaksa Mimpi dan Kenangan di Jendela Leiden
            Kisah Langit ditulis oleh seorang mahasiswi Sastra Inggris yang karya beberpa kali memenangkan saymebara menulis seperti runer-up lomba menulis novel Islami Depag, dan Pemenang Penghargaan Sayembara Menulis Cerita Bersambung Majalah Femina. Novel ini menuturkan sebuah kisah dengan selaksa mimpi dan kenangab di jendela Leiden dengan penuturan dua tokoh sekaligus.
            Penulis memilhi gaya bercerita yang ringkas dan sederhana. Untuk dua tokoh sekaligus yang menjadi tokoh orang pertama dengan penggunaan kata ganti orang pertama aku dan saya. Gaya ini memberikan beberapa kesan, pertama gaya ini tidak semua penulis mahir bahkan bisa menuturkan. Kedua, ada beberapa bagian yang menjadikannya agak membingungkan mengenai tokoh aku atau saya yang sedang bercerita ketika ada dalam satu anak judul dua tokoh bercerita sekaligus, dan kita dituntut untuk sadar tentang tokoh aku atau saya yang sedang bercerita.
            Berlatar di Kota Kembang Bandung penulis berkisah tentang seorang gadis kecil (Rahani) yang bersahabat dengan seorang anak tetangga depan (Bayu). Bayu selalu berkata jujur bahwa permainan musik Rahani jelek, dan lebih baik dia menggambar saja. Dibawah jendela besar dengan mozaik pesawat yang tertera Leiden dikusennya itulah ia banyak menghabiskan waktu menggambar dan berlatih harpa dengan Bayu semasa kecil.
Bunda Rahani adalah seorang guru musik, dan kakaknya (Rihan) sejak usia dini telah fasih memainkan alat musik harpa. Rahani kecil tidak suka ia dipaksa bundanya untuk berlatih harpa seperti sang kakak. Pendengarannya bermasalah ketika ia didiagnosa terkena meningitis dan membuatnya harus mengenakan hearing aid untuk menyokong pendengarannya. Permasalahan datang berturut-turut tatkala Bayu sahabat yang dianggap paling mengerti dirinya tiba-tiba pindah ke Jogja tanpa pamit saat dia dihukum bundanya tidak keluar rumah selama seminggu karena berbohong telah menghilangkan hearing aid agar terhindar dari latihan harpa. Setelah kepergian Bayu ke Jogja, ia harus kehilangan Ayah dan Kakaknya dalam kecelakaan kebakaran dihotel tempat ayah dan kakaknya menginap sewaktu kakaknya akan tampil dalam resital. Kehilangan ini menggali duka yang dalam dan berkepanjangan bagi bundanya yang membuat Rahani harus merawat bundanya yang hanya meratap dan tak pernah beranjak dari pembaringan bahkan untuk buang hajat.
            Ia berkuliah di jurusan Teknik Arsitektur, ia masih mengagumi mozaik pesawat di jendela Leiden tempat sejak semasa kecil ia habiskan bersama Bayu. Tiba-tiba Bayu muncul kembali, mengingatkan dia dengan romansa sahabat kecil yang bersama kepergiannya ia merasa kehilangan. Sosok baru muncul, Antariksa Ganidar. Ia banyak menggambar pesawat dari berbagai jenis dan maskapai tetapi tidak suka pesawat apalagi menainkinya. Ia memiliki trauma karena kehilangan ayahnya saat kecelakaan saat ia dan ayahnya akan kembali ke Leiden. Tokoh Riksa (Antariksa Ganidar) adalah tokoh kedua yang bercerita dengan kata ganti orang pertama saya sedang Rahani adalah tokoh pertama yang menggunakan kata ganti orang pertama aku. Riksa adalah mahasiswa Astronomi, selanjutnya ia pun banyak menghabiskan waktu bersama Rahani di bawah jendela Leiden, Rahani menghabiskan waktu menggambar sketsa-sketsa tugas dan Riksa mengerjakan tugas pengamatan langit dengan teleskop portabelnya. Sedangkan Bayu, pemilik romansa mas lalu Rahani menjadi sosok yang sama sekali berubah, ia senang mabuk-mabukan, berkata kasar dan bergonta-ganti perempuan. Namun Rahani masih menyimpan kerinduan tentang Bayu.
            Baik Rahani dan Riksa bermimipi melanjutkan studi master ke Leiden, namun alasan sesungguhnya berbeda. Rahani sungguh-sungguh bermimpi tentang Leiden karena jendela Leiden, sedang Riksa ingin mencari sisa keluarganya, mama dan adiknya yang tak pernah ia temui sejak kecelakaan bersama ayahnya ketika ia berumur empat tahun. Sedangkan Bayu berencana melanjutkan studi ke Singapura. Impian mereka terwujud, Rahani dan Riksa melanjutkan master di Universitet Leiden, sedang Bayu pergi ke Singapura. Rahani diperkenalkan dengan tanpa sadar dengan Opa Riksa (ayah angkat mama Riksa) yang seorang Belanda. Sedang Riksa benar-benar menemukan mama dan adik yang tak pernah ia ingat wajahnya. Selama empat bulan di Leiden Rahani dan Riksa tak pernah bertemu, di hari ke 122 Bayu datang berkunjung. Mereka janjian makan di restoran Cina, dan getar cemburu mulai hinggap dalam dada Rahani ketika Riksa datang bersama dengan Leive yang tak lain adalah adiknya. Status Leive terus menjadi batu prasangka dalam kepala Rahani, Leive adalah kekasih baru Riksa, dan hatinya pahit.
            Libur natal membawa niatnya untuk berlibur jalan-jalan ke Amsterdam, pada hari yang sama Riksa pun hendak pergi ke Amsterdam tetapi tanpa saling mengetahui. Riksa enggan mengajak Rahani karena ia merasakan sikap Rahani yang kaku dan membuatnya canggung, meskipun ia sangat ingin menepati janjinya pergi berlibur bersama Rahani ke Amsterdam. Sedang Rahani dalam waktu setengah menit berubah haluan dan menaiki tram ke Den Haag. Sebuah kecelakaan pun menimpa tram yang dinaiki Rahani. Membuat Rahani kehilangan kaki kiri lantaran di amputasi. Kehilangan kaki kiri tak membuatnya benar-benar terpuruk, lantaran Riksa akhirnya mengungkapkan perasaannya yang sulit diterima Rahani lantaran ia merasa berbeda. Setelah dua tahun mereka pun kembali ke Bandung, bunda Rahani yang selama ini dirawat neneknya pun secara fisik membaik. Ia terlihat lebih segar meskipun masih jauh dalam keduakaan. Kemudian kondisinya membaik dan mengenali Rahani sebagai Rahani dan bukan sebagai Rihan (kakaknya), ini menjadi kebahagiaan yang teramat besar baginya. Ibunya pun kembali menjadi guru musik.
            Ketika Rahani tidak sadar pasca kecelakan tram menuju Den Haag Riksa menjanjikan akan mengijinkan Rahani merenofasi rumahnya yang memiliki jendela Leiden. Rihana mengidamkan rumah besar dengan balokon yang luas agar kelak Riksa dapat melakukan pengamatan antariksa diatasnya. Mereka berdua jatuh cinta pada perbintangan langit malam.
            Melalui kisah ini kita dihidangkan dengan aneka kejutan dan kemungkinan yang dapat menimpa siapa saja seperi kecelakaan dan kuliah ke Leiden (keluar negeri). Nama-nama tokoh dalam kisah ini menurut saya berrima dengan R sebagai huruf depan nama ataupun panggilan seperti Rahani, Rihan, Bli Rae (teman Rahani di rumah Opa Riksa), Riksa, dan beberapa nama lain seperti Raras, ini berarti dua unik atau kurang variatif. Ada beberapa hal yang juga menjadi perhatian saya. Pertama, tentang perubahan Bayu dan seteru dengan orang tuanya yang kurang jelas, juga mengenai perubahan perilaku Bayu yang berubah lerbih merusak diri seperti suka minum-minum dan perempuan hal ini penting karena tokoh Bayu cukup sering muncul, seharusnya ada penjelasan. Kedua, tentang pacar Riksa yang “dilenyapkan” begitu mudah. Ketiga, mengenai pekerjaan Ayah Rahani yang kurang jelas (karena diakhir disebutkan ia dan ibunya bisa melanjutkan hidup dengan pensiunan ayahnya). Keempat, mengenai silsilah keluarga Riksa yang super duper rumit, seperti ayahnya yang seorang Belanda, Ibunya orang Indonesia tetapi diadopsi orang Belanda, opanya yang semula saya pikir opa dari pihak ayah tapi ternyata dari pihak ibu, lalu paman atau bibi (ayah ibu Bayu) yang menjadi saudara ibunya (padahal ibunya diadopsi dan tak bisa kembali ke Bandung. Terakhir yang membuat saya harus mengernyitkan kening adalah ketika saya membaca sinopsis disampul belakang, kesalahan penulisan saya pikir dengan menyebut alat musik cello yang dimainkan oleh Rahani, padahal alat musik yang dimaksud adalah harpa. Paling terakhir saya ucapkan selamat membaca sebuah kisah, selaksa mimpi dan kenangan di jendela Leiden.
             
Malang, 13.12.13

Sabtu, 09 Juni 2012

Korupsi Rasa Sambel Terasi

Sepertinya sudah menjadi tabi’at bangsa Indonesia yang gemar dengan jenis makanan-makanan yang pedas dan sambel yang benar-benar sambal alias yang bahan utamanya adalah cabai. Coba saja kita ingat berbagai jenis masakan dari penjuru nusantara dari masakan khas Manado, Padang, Borneo, Bali, dan Jawa yang bukan Solo atau Jogja, kebanyakan adalah makanan yang dimasak dengan bumbu pedas. Coba kita ingat lagi ada berbagai jenis macam sambal yang dimiliki, dari sambal bajak, sambal tomat, sambal ijo, sambal mangga, hingga sambal yang susah untuk menghilangkan aromanya dan paling khas yaitu sambal terasi. Seperti sambal, korupsi juga nampaknya telah dianggap sebagai budaya bagi bangsa ini. Bagaiamana tidak, korupsi yang sudah terjadi dari masa pemerintahan Orde Baru hingga masa pemerintahan detik ini masih saja berlaku dan terasa semakin subur meskipun sudah dipasangi berbagai alat perangkap yang diupayakan untuk menjerat para pelakunya. Korupsi yang sejatinya merupakan penyakit masyarakat sehigga disebut laten ini bukanlah budaya yang sesungguhnya bangsa ini. Tabi’at ini mulai “diajarkan” oleh koloni bangsa ini yaitu Belanda yang terkenal sebagai penjajah paling tamak. Tak heran jika VOC sebagai satu-satunya kamar dagang yang menguasai Nusantara kala itupun tidak mampu mempertahankan eksistensinya. Hal ini tidak lain disebabkan oleh penyakit bernama korupsi yang menjangkiti para pejabatnya. Ajaran “sesat” yang dibawa bangsa penjajah ini ternyata laku keras dikalangan kita. Korupsi dalam 13 buah Pasal dalam UU no. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2000 (KPK: 2006) memiliki 30 bentuk, jenis, atau wajah tindakan yang masuk dalam kategori korupsi. Namun, dari kesemua jenis dan bentuk tindak pidana korupsi ini tidak semuanya diketahui atau disadari oleh hampir semua orang. Korupsi yang umum dan lazim diketahui dan dipahami hanya berupa tindakan suap, penyelewengan jabatan, dan pengadaan anggaran dalam kasus pengadaan barang. Kasus semacam inilah yang paling popular dan banyak terjadi dikalangan birokrasi. Berbgai kasus muncul dan tenggelam seolah semua hanya tayangan iklan komersil di acara-acara televisi swasta yang menghasilkan banyak uang. Kasus tindak pidana korupsi muncul dan memberondong kehidupan gerah masyarakat yang muak akan ruwetnya masalah birokrasi dan pemerintahan. Hal yang menjengkelkan terkadang dari sekian banyak kasus yang dimunculkan banyak pula yang tidak diketahui hasil akhir dari penindakan hukum dari setiap kasus. Ada istilah tobat sambel yang banyak digunakan dikalangan masyarakat kita untuk menyebut orang-orang yang mengaku bertaubat terhadap suatu hal untuk tidak melakukan atau mengulangi suatu hal tersebut, namun dilain waktu dalam kesempatan berbeda dan tentu saja setelah jauh dari efek jera tempo lalu seeorang tersebut mengulangi tindakan yang ia ikrarkan untuk tidak mengulangi. Contohnya seperti seorang maling yang suatu waktu tertangkap basah sedang beroperasi, sehingga ia mendapat hadiah bogem dari penduduk sekitar yang marah. Sehingga sepenangkapanya itu menimbulkan efek jera dalam waktu yang sama sehingga ia berjanji untuk tidak akan mengulangi. Namun, saat ia terbebas dari hukuman kurungan ia kembali tergoda untuk mengulangi perbuatan mengambil hak milik orang lain. Hal ini terlihat berlaku juga pada banyak koruptor yang tertangkap. Banyak koruptor yang seakan mereka menyesali setiap sen yang dia ambil dari hak milik masyarakat saat ia wira-wiri dikursi persidangan. Namun, saat putusan dijatuhkan dan dia hanya mendapat ganjaran kurungan dan denda yang tak sberapa perilaku arogan akan kembali dimunculkan. Dan lagi banyak kasus yang dengan jelas memperlihatkan bagaimana nyamanya hotel prodeo bagi penjahat korupsi sperti yang pernah ditontonkan oleh Artalita Suryani dan kawan-kawan “seperjuangan.” Korupsi ini menjadi rasa sambel terasi karena dari sekian banyak koruptor jika mereka mendapatkan kedudukan lagi saya pikir mereka akan kembali menyalah gunakan jabatan dan kepercayaan yang kembali mereka terima. Kemudian mereka akan terlihat menyesal kembali saat kecuranganya diketahui khalayak. Kejadian ini akan terus berlangsung selama si koruptor tidak benar-benar membenci sambel terasi atau korupsi itu sendiri. Hal yang menambah kemuakan adalah ketika sambal terasi itu dimakan bersamaan dengan pete. Bagaimana cara menjelaskan betapa nikmatnya bagi orang-orang yang gemar makan pete dengan sambel terasi adalah bagaimana anda sedang makan makanan kesukaan anda. Namun bedanya adalah kenikmatan makan pete dan sambel ini hanya dinikmati oleh orang yang makan, sedang aroma pete dan terasinya yang dianggap dan terkenal tidak sedap tercium akan banyak dirasakan oleh orang-orang yang disekelilingnya bukan hanya olehnya sendiri. Hal ini sama saja dengan korupsi yang mana hanya dinikmati oleh segelintir elit saja namun imbasnya merugikan hingga jutaan penduduk yang sesungguhnya bergantung pada dana yang dikorupsi oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab dan tak berperi kemanusiaan. Karena bisa jadi pada setiap sen uang yang dinikmati disitu terdapat satu nyawa tak tertolong yang boleh jadi disebabkan karena gizi buruk, atau mahalnya pengobatan karena dana subsidi itu tidak bisa dijamah dengan gampang menembus birokrasi. 11-11-‘11

Minggu, 24 April 2011

Islam Memaknai Kesetaraan

Trinil atau dipanggil nil adalah nama julukan yang diberikan oleh ayah seorang Kartini padanya karena kelincahan, kegesitanya (Arifin,dkk:2008). Raden Ajeng (R.A) Kartini (1879-1904) telah menginspirasi jutaan perempuan Indonesia bahkan manca negara yang mengenalnya atau paling tidak tahu dirinya. Bukan karena gelar R.A yang ia sandang didepan namanya, tapi lebih pada pencapaian yang telah ia bawa untuk menerangi perempuan Indonesia yang telah lama diperbudak tradisi. Tradisi yang memasung kita untuk hanya berada dibawah kaum laki-laki. Lentera yang menyerukan perubahan diri untuk perempuan ini kita kenal emansipasi.

Sungguhpun jika kita mengenal Islam lebih dekat kita tak akan pernah mempertanyakan kedudukan kita atau kesetaraan kita dengan laki-laki, karena apa? Seseungguhnya Islam telah mengatur dengan indah harkat, martabat, kedudukan, dan statusserta keistimewaan perempuan dengan laki-laki. Perempuan disebut sebanyak tiga kali untuk dihormati dibanding laki-laki, itu tersurat dalam sebuah hadits nabi yang memerintahkan kita untuk menghormati ibu, ibu, dan ibu kita terlebih dahulu barulah ayah kita kemudian.

Perempuan masa kini telah terkonstruksi untuk selalu menyamakan diri dengan laki-laki, dan bahkan mengunggulinya. Pemikiran ini telah disemai oleh peradaban barat dan dipupuk dinegeri kita oleh R.A Kartini. Tidak ada yang buruk emansipasi itu ketika persamaan kesetaraan perempuan dan laki-laki yang ingin dicapai masih dalam ambang normal syar’i Islam bagi umat Muslimah. Seperti telah terjadi salah tafsir atas perjuangan Kartini dalam mengusahkan kemuliaan bagi perempuan Indonesia, yang Kartini sadari yang menjadi kebutuhan dan perbudakan tradisi bagi permpuan Indonesia adalah perihal pendidikan, tak lebih. R.A Kartini tak pernah membantah suaminya. Akan menjadi malapetaka adalah ketika perempuan menginginkan kedudukan yang jauh lebih tinggi dari laki-laki seperti imam masjid atau sekedar imam rumah tangga. Banyak perceraian terjadi ketikan perempuan berharap kelebihan itu. Perempuan inilah yang menolak untuk bersinggasana didalam dapur atau menuntun anak-anak mereka kesekolah. Perempuan yang lebih menganggap bekerja diluar rumah dan membiarkan suami mengurusi rumah adalah hal hak asasi dan kesetaraan.

Telah jauh hari saat Islam datang ia tak pernah memungkiri keistimewaan perempuan dan mendudukanya dalam tempat terhormat. Bahkan jauh sebelum Islam datang seorang fir’aun yang durhaka terhadap Tuhan-nya pun membiarkan hidup perempuan-perempuan dan anak perempuan saat ia menuruti nasehat para penasehatnya untuk membunuh semua anak laki-laki yang ditakwilkan dari mimpi Fir’aun yang dalam takwil mimpinya ia melihat akan ada seorang anak laki-laki merampas mahkotanya dari atas kepalanya (lihat Q.S 7:127, 28:4, dan 2:49). Bagaimana mungkin jika Fir’aun saja yang seorang kafir membiarkan anak-anak perempuan dan perempuan-perempuan dewasa tetap hidup yang padahal dia memiliki kemungkinan untuk melahirkan anak laki-laki kemudian Islam tidak memperlakukan perempuan menjadi lebih rendah dihadapanya. Islam bahkan telah mengistimewakanya.

Banyak sekali bertebaran penyebutan kata perempuan dalam ayat-ayat-Nya didalam muhsaf al-Qur’an. Bahkan nama perempuanpun dikenang dan dimuliakan dengan menjadikanya sebagai nama sebuah surat yaitu surat ke-4 (an-nisaa’). Setidaknya ada sebanyak 90 Kali nama perempuan disebut didalam al-Qur’an. Dengan jelas disebutkan bahwa kedudukan perempuan itu sama dengan laki-laki dihadapan-Nya:

“ Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Q.S al-Ahzab:35).

Ancaman dan kabar gembira diberikan bagi setiap umat Islam, baik yang peremuan maupun laki-laki. Dalam hal ini sesuatu yang akan membedakan, dan merendahkan atau mengangkat derajat perempuan atau laki-laki, maupun semua golongan manusia itu hanya tingkat ketaatan pada Sang Khalik yang member hidup. Tidak ada jaminan tiket syurga bagi laki-laki pendosa pun bagi perempuan. Allah SWT. Menjamin tiket kesurga bagi pendosa perempuan dan laki-laki yang telah bertobat kembali pada jalan yang telah ditunjukan-Nya “shirotol mustaqim” dengan menurunkan wahyu dan utusan-Nya untuk meluruskan segenap aqidah dan akhlak manusia pada Tuhanya dan sesama manusia:



“sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan ; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(Q.Sal-Ahzab:73)

Maka seharusnya tidak ada kekhawatiran bagi diri setiap muslimah mengenai kedudukanya dengan kedudukan laki-laki. Setiap jiwa telah memiliki potensi yang sama. Buruk adalah ketiadaan dari kebaikan. Jadi berprasangka buruk terhadap Allah SWT. (seperti merasa rendah kedudukan perempuan dalam Islam) adalah menunjukan kekurang percayaan kita terhadap-Nya. Banyak kalangan yang menyebut-nyebut tindakan peringantan yang diterima oleh perempuan dalam hukum Islam yang menyudutkan Islam mengekang dan memperbudak serta menyakiti perempuan, dan tidak adil dalam pembagian seperti pembagian harta warisan yang memperbolehkan pembagian yang setengah dari bagian anak laki-laki. Tuduhan semacam ini seharusnya tak dapat menggoyahkan keyakinan kita akan Islam, tak memprovokasi kita untuk menjauhi Islam. Boleh jadi orang-orang dengan pikiran semacam ini atau tuduhan seperti ini adalah orang-orang yang tidak atau setidaknya belum mengenali Islam secara benar. Maka alangkah indahnya jika kita masuk gerbang Islam secara kaffah seperti yapa yang telah diserukan oleh Allah SWT. Sendiri dan janganla setengah-setengah.

Minggu, 30 Januari 2011

KERETA API EKONOMI DAN KANTONG AJAIBNYA

Aku sedang menunggu kedatangan kereta api kelas ekonomi “Matarmaja” yang berangkat dari Jakarta dengan tujuan Malang yang akan tiba sepuluh menit lagi dijalur tiga, dan akan tepat dihadapan wajahku yang berdiri diperon dua, jika tepat waktu sesuai jadwal yang tertulis ditiket tentunya, tau sendirilah Indonesia. Lima menit menjelang kedatanganya--menurut tiket lagi—hatiku menjadi semakin gelisah, berdebar, senang, sedih, ingin menangis, dan selusin perasaan lain yang entah kubisa mengejawantahkanya dalam bentuk kata-kata. Bukan apa-apa, ini adalah kali pertama aku akan pergi meninggalkan kampung halaman di Brebes, jauh dari kenyamanan perhatian dan kemanjaan dari Ummi Abbi yang tak pernah perhitungan, kesetiakawanan dari pertalian darah yang terikat mendalam bersama kebersamaan, dan keceriaan bersama rangers-ku, tiga ponakan yang selalu menggembirakan dan tak sealu nurut. Yah,,, ini adalah menjadi detik-detik perpisahanku dengan ke;uarga yang mengantarkanku sampai stasiun Tegal untuk melepas dan meelihat keberangatanku ke kota Malang. Kota yang kuharap apat mengobati dahaga hati untuk menjadi insan berilmi, aku akan kuliah di Malang. Kota yang kuharap pula dapat melengkapi mozaik-mozaik hidupku untuk tujan mimpi yang sering berganti orientasi, maklum saja aku masih sedikit muda.
Dua menti menunggu giliranku naik keatas kereta setelah pak kepala stasiun dari speaker rombeng mengoceh tak terang menginformasikan kedatangan Matarmaja yang segera kunaiki. Demi memastikan mendapat tempat dan kursi yang nyaman bagi adik kecilnya. Abang mengantarku hingga keatas gerbong dan mencarikan tempat duduk kosong yang dapat kutempati. Dua menit yang terasa sangat lama sekali sekaligus sangat singkat. Dua menit yang kuingat selalu lambaian tangan keluargaku melepas keberangkatanku dan bermakna banyak: hati-hati nak, sekaligus adek, sekaligus buklik, cepat kasih kabar kalau sudah sampai, kami akan selalu rindu sama kamu, do’a kami menyertaimu, semoga cita-citamu terwujud, jaga diri baik-baik, hindarai pergaulan yang sembrono, dan masih banyak lagi arti termaksud dalam lambaian tangan dan pandangan mata-mata bening yang sembunyi-sembunyi meneteskan air mata untuku hingga kereta tak lagi dapat terlihat dari kedua lensa mata mereka.
Menjauh dari pandangan keluarga telah memalingkanku pada dunia nyata kembali. Dunia seharusnya dan sesungguhnya aku sedang berada. Dunia dimana aku sedang dalam ruang gerbong kereta dan ruang waktu yang terus bergolak. Ada pemandangan yang nyatanya sedari pertama kakiku menaiki kereta tapi baru sejarang aku menyadari penuh adanya. Kereta yang penuh dengan penumpang. Pria, wanita, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, para remaja perempuan dan laki-laki, nenek-nenenk, kaek-kakek semua komplit terlihat meski hanya disatu gerbong yang tak dapat penuh kulihat tanpa jelas. Wajah mereka satupun tak nampak tak asing bagiku. Semua orang-orang baru dengan wajah yang sudah kuyi dibungkus perjalanan dalam beberapa jam yang kulihat digrerbong kereta yang saat ini menjadi bagian hidupku. Bagaimana tidak, jika saja yang tak pernah diharapkan menimpa, misal kereta ini terjungkal dan aku termasuk yang harus terpanggang plus terapit diantara gerbong kereta laksana burger manusia dengan gerbong sebagai rotinya. Maka musnah sudah cerita hidupku paling sampai kuburan dalam selang beberapa waktu, itupunjika mayatku masih bisa sampai kekuburan karena dapat dikenali, bagaimana kalau tidak?, inilah kusebut bagian hidupku, dan semoga saja tak terjadi.
Lima belas menit pikiran tentang keluarga masih tergambar jelas dihati. Namun perlahan pikiran dan hati mulai disibukan untuk menerima rangsangan-rangsangan yang dikirm neuron dari organ mata dang hidung sampai telinga yang menjadi gerbang masuknya rasa yang kemudiang dipikirkan dan adakalanya menjadi karya yang tercipta karena karsa, seperti sekarang ini, dasyat memang. Melihat penumpang balita dan ibunya dengan wajah kuyu dan lesu sedang menyusu dan disusui sambil merapalkan mantra-mantra tak terang kudengar, seperti kata-kata menyuruh anaknya diam tak rewel karena terlalu sering merengek meminta menyusu. Sang balita yang belum lengkap gigi depanya hanya meringis dan tersenyum melihat wajah ibunya yang sedang kesal. Sang ibupun tak tahan untuk meneruskan merapalkan mantranya dan ikut tertawa bersama bayi ompongnya sambil menciumi kening dan pipi si bayi.
Disisi lain, dibangku seberang tempatku duduk tepat disebelah kanan yang hanya muat untuk ditempati berdua, tak seperti tempat duduku yang diseting untuk cukup bertiga. Ada seorang pemuda dan seorang pemudi yang tampaknya adalah sepasang kekasih, dan tepat dihadapan mereka seorang ibu-ibu dan seorang bapak-bapak duduk yang pun nampaknya sepasang suami istri, sepasang kekasih yang disahkan agama, orang tua, warga, dan negara juga penting untuk akta. Ada pemandangan yang berbanding terbalik diantara dua pasngan itu. Sipasangan muda-mudi yang menurutku belum resmi dalam institusi dan masih terbilang teri untuk urursan memberi arti masing-masing pada pasanganya (dan semoga usalah dengan persepsi ini) terlihat sangat saling memberi dan melingungi, dan yang paling klasik kubilang “mereka pasti saling mencintai dan menyayangi”. Pada pasangan yang didepanya kulihat mereka kaku seperti sudah saling bosan, atau tau diri untuk tidak mengumbar kedirian didepan khalayak, dan untuk pasangan ini yang klasik kubilang “mereka pasti punya cara sendiri untuk saling menjaga hati”.
Kemudian ada pemandangan lain yang kemudian menjadi favoritku. Seorang anak perempuan mungkin sekitar delapan hingaa sepuluh tahun usianya, dengan wajah yang seperti hampir kesemua penumpang pun kini aku yangmasih penumpang baru, lesu dan sedikti berminyak dengan rasa yang mungkin tak ada rasa lelah ia sedang memijiti ibunya yang sedang tidur. Jika mungkin ia merasa lelah memijit-mijit tangan dan kaki ibunya, lantas ia akan memandangi wajah ibunya penuh arti yang sedang tidur sembari tersenyum --mungkin sangat mencintai ibunya kurasa—menjadi pemamdamgam yang langka. Begitulah mestinya seorang anak terhadap orangtuanya berlaku kupikir. Terakhir akupun sadar sebelum kantuk menginvasi dan berhasil mendudukiku kemudian, kulihat anak itupun turut pulas dengan mengalungkan tangan ibunya dibahu mungilnya dan bersandar diantara lengan dan ketiak ibunya. Pemandangan indah yang langka yang kudapat dari gerbong kuning ke-lima ini yang kemudian mengantarkan pada mimipi-mimpiku yang tak teratur dan tak bersambung.
“popmie,,, energen,,, kopi,,, milo,,, “ kudengar suara itu semakin riuh dan bersaut bergantian, dan parahnya berulang-ulang. Membuyarkan tentu saja tidurku yang tak karuan, tidur yang terasa panjang dari jam setengah tujuh hingga jam delapan malam. Lewatnya beberapa penjual popmie dan beraneka ragam minuman panas bubuk-bubuk warna-warni dari sashet-sashet untuk seduhan instan ini mneyadarkan lagi dalam alam pikirku akan kehadiran manusisa-manusia yang berwira-wiri sedari pertama kaki ini kuinjakan diatas gerbong kereta. Orang-orang yang datangnya dari dari arah entah-berantah-sebenarnya si datang dari depan atau belakang- dan dilengkapi dengan berbagai barang pegangan yang ditawarkan dengan berteriak-teriak kencang, dan tentu saja diperjualkan. Terus terang, sedikit banyak kurasa para penjual ini mulai mengusik alam intelejensiku selain alam tidur yang membutuhkan ketenanganku. Aku berpikir dan bertanya dari mana orang-orang para penjual ini datang?, bagaimana mereka dapat menjual barang dagangaanya dengan sangat murah?, dari mana pula rombongan pengamen ini masuk dan datang?, kenapa mereka berombong tak solo saja biar untung sendiri?, dari mana bapak berseragam biru dengan emblem DISHUB dikanan atau diatas sakunya-entahlah aku sedikit lupa letak pastinya- itu datang sambil menawarkan terkadang makanan, atau minuman, dan terkadang bantal?, waw,,, kenapa ada orang tiba-tiba datang dan menyapu lantai kereta?, namun selang beberapa menit kembali dan menengadahkan plastik bungkus permen untuk menerima receh, rupanya ngamen sapu orang-orang ini. Lalu kenapa dikereta banyak yang datang tiba-tiba dan pergi entah kemana bergantian menawarkan kerupuk pasir, kerupuk tahu, dodol, jenang, kerak, brem, wingko babat, pensil, buku tulis, buku bacaan, bolpoint, pisau dapur, korek, gunting, gethuk, es, keripik, tahu mentah, onde-onde, sate kerang, sate 02 yang kemudian kutahu adalah sate bekicot, tempura, telur putuh, manisan mangga, tahu seumedang, rubik, gasing, pistol-pistola, TTS, koran. Wah,,, aku bingung mana lagi yang belum sempat kusebut. Aku bingung, kenapa?, dari mana?, bagaimana?, kok bisa?. Sungguh komplit dan tak perlu takut kelaparan, mati gaya kehabisan kegiatan (ada banyak mainan diperjualkan), tak perlu takut juga kehabisan minuman dan kehabisan duit tentu saja, “haha pasar didalam kereta” pikirku. Paling peting aku berpikir pastilah tak hanya doraemaon yang memiliki kantong ajaib, tapi kereta-kereta kelas ekonomi dinegerikupun memiliki kantong ajaib yang jauh lebih besar. Buktinya bukan hanya doreyaki atau baling-baling bambu yang keluar, tapi onde-onde dan penjualnya, ada musik dangdut beserta penabuh alat musiknya dari kecrik, gendang, biola, bass, pluit hingga yang narik duit.
Satu lagi yang tak boleh kulewatkan dari almanak pelajaran dikereta hari ini, dari kereta kelas ekonomi ini pastinya. Kupetik dan kupastikan hanya ekonom-ekonom (kusebut bagi penumpang maupun para “pekerja” didalam kereta ini) yang menaiki kereta inilah para ekonom sejati, lebih dari kaum kapital yang mengendarai liberal. Mereka, para ekonom ini adalah orang yang rela bekerja membagi ladang. Mematuhi atau setidaknya menyepakati betul beberapa lirik yang terdapat dalam lagu milik Serious band yang tak kurang dan mungkin tak lebih “sama-sama cari uang jangan saling sikut-sikutan”, sebuah nasehat atau pengingat singkat yang patut memang untuk diterap. Tak ada superioritas maupun inferioritas. Tak ada antara pemilik kapital besar maupun pekerja, karena semuanya bekerja sama rata, sama-sama merana tepatnya. Mereka menyaringkan suara demi memikat para pelanggan yang “naif”, yang selalu menampakan wajah tak butuh meskipun sudah teramat lapar, yang akhirnya runtuh pula bangunan pertahanan gengsinya. Hiruk pikuk yang mengikuti hentakan laju kereta yang secara alami menjadi melodi seumpama perih maupun peri itu sendiri yang teratur dalam musik. Lagi, mereka adalah ekonom-ekonom kelas ekonomi yang merelakan banyak detik mereka “terganggu” (bisa diartikan sendiri-sendiri) oleh aktifitas yang sesekali sangat memekakan telinga bersama hentakan irama kereta itu dalam waktu yang lain pula menjadi hal yang sangat dirindu, naeh memang. Mereka para ekonom kelas ekonomi mafhum betul hakikat dari hak mereka, “hak yang dibatasi oleh hak orang lain”.
Para ekonom ini kupikir adalah mahluk sosial yang hidup dalam dunia sosial yang sejatinya (meskipun bakalan banyak yang tak sependapat). Memberikan ruang mereka untuk bisa diduduki bersama. Toleransi yang sangat kuhargai dan jarang kutemui. Mereka yang saling memberikan makna kesetaraan dalam egaliter yang dijargonkan negeri demokrasi kita yang jauh dari demokratis. Mereka yang menjadi etalase bagi kemajemukan dalam satu wadah, bangsaku yang utuh dalam Bhineka Tunggal Ika.
Sekali lagi kutak boleh melewatkan, aku telah merasa menjadi bagian dari pusara masyarakat sosial representasi bangsa ini. Bukan membesarkan, tapi kulihat hanya pada mereka kubisa berkaca, berbangga, bersama, berbagi, dan dibagi. Kereta kelas ekonomi inipun telah memberikan peluang bagi ekonom sekaligus masyarakat sosial kita menjadi orang yang bisa memiliki kerendahan hati, dan tak menafikan pun sebaliknya. Berbagi pada si pengangguran seorang tuna wisma.sedikit miris ketika kami yang diilndas krisis akibat dari sesuatu yang tak kami buat, oleh kami ekonom mlarat. Mereka yang dengan mata tertutup seolah sedang mengaduk undian didalam mangkok memcari dan berusaha memperoleh peruntungan dengan mengaduk-aduk ekonomi negara yang dampaknya menimpa kita. Lalu dengan keadaan yang seperti ini, yang patut dan niatlah kami mengadu pada “abdi” negara ini tapi malah tak dinyana bapak ini yang sebutanya bapak nomer satu malah mengadu dan meminta belas kasih kami dengan meminta naik gaji, dan kami kasihi, agaknya “bodoh” kami.
“hem,,, mimpi apa aku?”, ternyata tidurku yang tak pernah lengkap dikereta membuat mimpiku tak pernah lengkap juga. Tidurku yang datang dan pergi tak begitu jelas waktunya, mungkin jika digambarkan seperti dalam film “day and night” yang dibintangi Cameron Diaz (jika tidak salah, karena jujur saja au sedikit pelupa untuk urusan film maupun aktornya). Tidur yang dalam waktu cepat dan ditempat yang melaju dengann cepat membuatku sedikit merasa linglung untuk berpikir. Kemudian yang kudapati hanya segelas popmie yang telah berkali-kali lewat dan berhasil membangunkan tidurku yang berkali-kali pula. Ah,,, kantong ajaibkereta ekonomi, membuatku takan pernah takut bisa mati kelaparan meskipun bisa saja, tapi tetap saja dengan kemungkinan besar jika aku menjadi si papa, karena aku didalam kereta. Kertapun kini telah selesai menjalankan tugasnya, mengantarkanku (dan tentu saja penumpang lainya) kekota yang menjadi pilihanku untuk melengkapi mozaik hidup (jika boleh meminjam istilah Andrea Hirata yang kusepakati). Kereta ini pula yang telah mempertontonkanku pada pemandangan-pemandangan indah bukan hanya karena telah melewati bentangan alam nusantara yang indah, dan juga perasaan-perasaan yang indah dari pada bersalah atau hanya berkeluh kesah. Kantong ajaib kereta ekonomi, kupikir akan abadi hingga bangsa ini tak perlu lagi menjadi bangsa “kuli”. Kantong ajaib kereta ini menjadi atlas tak terbatas untuk memahami hidup yang katanya tak mudah ini. Maka patutlah kuberikan sedikit saran untuk yang belum pernah menaiki dan menikmati naik diatas kereta ekonomi (daripada kelas eksekutif yang menyendiri dan dingin) biar bisa merasakan bagaimana kantong ajaib itu bekerja.

Pengikut