Minggu, 30 Januari 2011

KERETA API EKONOMI DAN KANTONG AJAIBNYA

Aku sedang menunggu kedatangan kereta api kelas ekonomi “Matarmaja” yang berangkat dari Jakarta dengan tujuan Malang yang akan tiba sepuluh menit lagi dijalur tiga, dan akan tepat dihadapan wajahku yang berdiri diperon dua, jika tepat waktu sesuai jadwal yang tertulis ditiket tentunya, tau sendirilah Indonesia. Lima menit menjelang kedatanganya--menurut tiket lagi—hatiku menjadi semakin gelisah, berdebar, senang, sedih, ingin menangis, dan selusin perasaan lain yang entah kubisa mengejawantahkanya dalam bentuk kata-kata. Bukan apa-apa, ini adalah kali pertama aku akan pergi meninggalkan kampung halaman di Brebes, jauh dari kenyamanan perhatian dan kemanjaan dari Ummi Abbi yang tak pernah perhitungan, kesetiakawanan dari pertalian darah yang terikat mendalam bersama kebersamaan, dan keceriaan bersama rangers-ku, tiga ponakan yang selalu menggembirakan dan tak sealu nurut. Yah,,, ini adalah menjadi detik-detik perpisahanku dengan ke;uarga yang mengantarkanku sampai stasiun Tegal untuk melepas dan meelihat keberangatanku ke kota Malang. Kota yang kuharap apat mengobati dahaga hati untuk menjadi insan berilmi, aku akan kuliah di Malang. Kota yang kuharap pula dapat melengkapi mozaik-mozaik hidupku untuk tujan mimpi yang sering berganti orientasi, maklum saja aku masih sedikit muda.
Dua menti menunggu giliranku naik keatas kereta setelah pak kepala stasiun dari speaker rombeng mengoceh tak terang menginformasikan kedatangan Matarmaja yang segera kunaiki. Demi memastikan mendapat tempat dan kursi yang nyaman bagi adik kecilnya. Abang mengantarku hingga keatas gerbong dan mencarikan tempat duduk kosong yang dapat kutempati. Dua menit yang terasa sangat lama sekali sekaligus sangat singkat. Dua menit yang kuingat selalu lambaian tangan keluargaku melepas keberangkatanku dan bermakna banyak: hati-hati nak, sekaligus adek, sekaligus buklik, cepat kasih kabar kalau sudah sampai, kami akan selalu rindu sama kamu, do’a kami menyertaimu, semoga cita-citamu terwujud, jaga diri baik-baik, hindarai pergaulan yang sembrono, dan masih banyak lagi arti termaksud dalam lambaian tangan dan pandangan mata-mata bening yang sembunyi-sembunyi meneteskan air mata untuku hingga kereta tak lagi dapat terlihat dari kedua lensa mata mereka.
Menjauh dari pandangan keluarga telah memalingkanku pada dunia nyata kembali. Dunia seharusnya dan sesungguhnya aku sedang berada. Dunia dimana aku sedang dalam ruang gerbong kereta dan ruang waktu yang terus bergolak. Ada pemandangan yang nyatanya sedari pertama kakiku menaiki kereta tapi baru sejarang aku menyadari penuh adanya. Kereta yang penuh dengan penumpang. Pria, wanita, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, para remaja perempuan dan laki-laki, nenek-nenenk, kaek-kakek semua komplit terlihat meski hanya disatu gerbong yang tak dapat penuh kulihat tanpa jelas. Wajah mereka satupun tak nampak tak asing bagiku. Semua orang-orang baru dengan wajah yang sudah kuyi dibungkus perjalanan dalam beberapa jam yang kulihat digrerbong kereta yang saat ini menjadi bagian hidupku. Bagaimana tidak, jika saja yang tak pernah diharapkan menimpa, misal kereta ini terjungkal dan aku termasuk yang harus terpanggang plus terapit diantara gerbong kereta laksana burger manusia dengan gerbong sebagai rotinya. Maka musnah sudah cerita hidupku paling sampai kuburan dalam selang beberapa waktu, itupunjika mayatku masih bisa sampai kekuburan karena dapat dikenali, bagaimana kalau tidak?, inilah kusebut bagian hidupku, dan semoga saja tak terjadi.
Lima belas menit pikiran tentang keluarga masih tergambar jelas dihati. Namun perlahan pikiran dan hati mulai disibukan untuk menerima rangsangan-rangsangan yang dikirm neuron dari organ mata dang hidung sampai telinga yang menjadi gerbang masuknya rasa yang kemudiang dipikirkan dan adakalanya menjadi karya yang tercipta karena karsa, seperti sekarang ini, dasyat memang. Melihat penumpang balita dan ibunya dengan wajah kuyu dan lesu sedang menyusu dan disusui sambil merapalkan mantra-mantra tak terang kudengar, seperti kata-kata menyuruh anaknya diam tak rewel karena terlalu sering merengek meminta menyusu. Sang balita yang belum lengkap gigi depanya hanya meringis dan tersenyum melihat wajah ibunya yang sedang kesal. Sang ibupun tak tahan untuk meneruskan merapalkan mantranya dan ikut tertawa bersama bayi ompongnya sambil menciumi kening dan pipi si bayi.
Disisi lain, dibangku seberang tempatku duduk tepat disebelah kanan yang hanya muat untuk ditempati berdua, tak seperti tempat duduku yang diseting untuk cukup bertiga. Ada seorang pemuda dan seorang pemudi yang tampaknya adalah sepasang kekasih, dan tepat dihadapan mereka seorang ibu-ibu dan seorang bapak-bapak duduk yang pun nampaknya sepasang suami istri, sepasang kekasih yang disahkan agama, orang tua, warga, dan negara juga penting untuk akta. Ada pemandangan yang berbanding terbalik diantara dua pasngan itu. Sipasangan muda-mudi yang menurutku belum resmi dalam institusi dan masih terbilang teri untuk urursan memberi arti masing-masing pada pasanganya (dan semoga usalah dengan persepsi ini) terlihat sangat saling memberi dan melingungi, dan yang paling klasik kubilang “mereka pasti saling mencintai dan menyayangi”. Pada pasangan yang didepanya kulihat mereka kaku seperti sudah saling bosan, atau tau diri untuk tidak mengumbar kedirian didepan khalayak, dan untuk pasangan ini yang klasik kubilang “mereka pasti punya cara sendiri untuk saling menjaga hati”.
Kemudian ada pemandangan lain yang kemudian menjadi favoritku. Seorang anak perempuan mungkin sekitar delapan hingaa sepuluh tahun usianya, dengan wajah yang seperti hampir kesemua penumpang pun kini aku yangmasih penumpang baru, lesu dan sedikti berminyak dengan rasa yang mungkin tak ada rasa lelah ia sedang memijiti ibunya yang sedang tidur. Jika mungkin ia merasa lelah memijit-mijit tangan dan kaki ibunya, lantas ia akan memandangi wajah ibunya penuh arti yang sedang tidur sembari tersenyum --mungkin sangat mencintai ibunya kurasa—menjadi pemamdamgam yang langka. Begitulah mestinya seorang anak terhadap orangtuanya berlaku kupikir. Terakhir akupun sadar sebelum kantuk menginvasi dan berhasil mendudukiku kemudian, kulihat anak itupun turut pulas dengan mengalungkan tangan ibunya dibahu mungilnya dan bersandar diantara lengan dan ketiak ibunya. Pemandangan indah yang langka yang kudapat dari gerbong kuning ke-lima ini yang kemudian mengantarkan pada mimipi-mimpiku yang tak teratur dan tak bersambung.
“popmie,,, energen,,, kopi,,, milo,,, “ kudengar suara itu semakin riuh dan bersaut bergantian, dan parahnya berulang-ulang. Membuyarkan tentu saja tidurku yang tak karuan, tidur yang terasa panjang dari jam setengah tujuh hingga jam delapan malam. Lewatnya beberapa penjual popmie dan beraneka ragam minuman panas bubuk-bubuk warna-warni dari sashet-sashet untuk seduhan instan ini mneyadarkan lagi dalam alam pikirku akan kehadiran manusisa-manusia yang berwira-wiri sedari pertama kaki ini kuinjakan diatas gerbong kereta. Orang-orang yang datangnya dari dari arah entah-berantah-sebenarnya si datang dari depan atau belakang- dan dilengkapi dengan berbagai barang pegangan yang ditawarkan dengan berteriak-teriak kencang, dan tentu saja diperjualkan. Terus terang, sedikit banyak kurasa para penjual ini mulai mengusik alam intelejensiku selain alam tidur yang membutuhkan ketenanganku. Aku berpikir dan bertanya dari mana orang-orang para penjual ini datang?, bagaimana mereka dapat menjual barang dagangaanya dengan sangat murah?, dari mana pula rombongan pengamen ini masuk dan datang?, kenapa mereka berombong tak solo saja biar untung sendiri?, dari mana bapak berseragam biru dengan emblem DISHUB dikanan atau diatas sakunya-entahlah aku sedikit lupa letak pastinya- itu datang sambil menawarkan terkadang makanan, atau minuman, dan terkadang bantal?, waw,,, kenapa ada orang tiba-tiba datang dan menyapu lantai kereta?, namun selang beberapa menit kembali dan menengadahkan plastik bungkus permen untuk menerima receh, rupanya ngamen sapu orang-orang ini. Lalu kenapa dikereta banyak yang datang tiba-tiba dan pergi entah kemana bergantian menawarkan kerupuk pasir, kerupuk tahu, dodol, jenang, kerak, brem, wingko babat, pensil, buku tulis, buku bacaan, bolpoint, pisau dapur, korek, gunting, gethuk, es, keripik, tahu mentah, onde-onde, sate kerang, sate 02 yang kemudian kutahu adalah sate bekicot, tempura, telur putuh, manisan mangga, tahu seumedang, rubik, gasing, pistol-pistola, TTS, koran. Wah,,, aku bingung mana lagi yang belum sempat kusebut. Aku bingung, kenapa?, dari mana?, bagaimana?, kok bisa?. Sungguh komplit dan tak perlu takut kelaparan, mati gaya kehabisan kegiatan (ada banyak mainan diperjualkan), tak perlu takut juga kehabisan minuman dan kehabisan duit tentu saja, “haha pasar didalam kereta” pikirku. Paling peting aku berpikir pastilah tak hanya doraemaon yang memiliki kantong ajaib, tapi kereta-kereta kelas ekonomi dinegerikupun memiliki kantong ajaib yang jauh lebih besar. Buktinya bukan hanya doreyaki atau baling-baling bambu yang keluar, tapi onde-onde dan penjualnya, ada musik dangdut beserta penabuh alat musiknya dari kecrik, gendang, biola, bass, pluit hingga yang narik duit.
Satu lagi yang tak boleh kulewatkan dari almanak pelajaran dikereta hari ini, dari kereta kelas ekonomi ini pastinya. Kupetik dan kupastikan hanya ekonom-ekonom (kusebut bagi penumpang maupun para “pekerja” didalam kereta ini) yang menaiki kereta inilah para ekonom sejati, lebih dari kaum kapital yang mengendarai liberal. Mereka, para ekonom ini adalah orang yang rela bekerja membagi ladang. Mematuhi atau setidaknya menyepakati betul beberapa lirik yang terdapat dalam lagu milik Serious band yang tak kurang dan mungkin tak lebih “sama-sama cari uang jangan saling sikut-sikutan”, sebuah nasehat atau pengingat singkat yang patut memang untuk diterap. Tak ada superioritas maupun inferioritas. Tak ada antara pemilik kapital besar maupun pekerja, karena semuanya bekerja sama rata, sama-sama merana tepatnya. Mereka menyaringkan suara demi memikat para pelanggan yang “naif”, yang selalu menampakan wajah tak butuh meskipun sudah teramat lapar, yang akhirnya runtuh pula bangunan pertahanan gengsinya. Hiruk pikuk yang mengikuti hentakan laju kereta yang secara alami menjadi melodi seumpama perih maupun peri itu sendiri yang teratur dalam musik. Lagi, mereka adalah ekonom-ekonom kelas ekonomi yang merelakan banyak detik mereka “terganggu” (bisa diartikan sendiri-sendiri) oleh aktifitas yang sesekali sangat memekakan telinga bersama hentakan irama kereta itu dalam waktu yang lain pula menjadi hal yang sangat dirindu, naeh memang. Mereka para ekonom kelas ekonomi mafhum betul hakikat dari hak mereka, “hak yang dibatasi oleh hak orang lain”.
Para ekonom ini kupikir adalah mahluk sosial yang hidup dalam dunia sosial yang sejatinya (meskipun bakalan banyak yang tak sependapat). Memberikan ruang mereka untuk bisa diduduki bersama. Toleransi yang sangat kuhargai dan jarang kutemui. Mereka yang saling memberikan makna kesetaraan dalam egaliter yang dijargonkan negeri demokrasi kita yang jauh dari demokratis. Mereka yang menjadi etalase bagi kemajemukan dalam satu wadah, bangsaku yang utuh dalam Bhineka Tunggal Ika.
Sekali lagi kutak boleh melewatkan, aku telah merasa menjadi bagian dari pusara masyarakat sosial representasi bangsa ini. Bukan membesarkan, tapi kulihat hanya pada mereka kubisa berkaca, berbangga, bersama, berbagi, dan dibagi. Kereta kelas ekonomi inipun telah memberikan peluang bagi ekonom sekaligus masyarakat sosial kita menjadi orang yang bisa memiliki kerendahan hati, dan tak menafikan pun sebaliknya. Berbagi pada si pengangguran seorang tuna wisma.sedikit miris ketika kami yang diilndas krisis akibat dari sesuatu yang tak kami buat, oleh kami ekonom mlarat. Mereka yang dengan mata tertutup seolah sedang mengaduk undian didalam mangkok memcari dan berusaha memperoleh peruntungan dengan mengaduk-aduk ekonomi negara yang dampaknya menimpa kita. Lalu dengan keadaan yang seperti ini, yang patut dan niatlah kami mengadu pada “abdi” negara ini tapi malah tak dinyana bapak ini yang sebutanya bapak nomer satu malah mengadu dan meminta belas kasih kami dengan meminta naik gaji, dan kami kasihi, agaknya “bodoh” kami.
“hem,,, mimpi apa aku?”, ternyata tidurku yang tak pernah lengkap dikereta membuat mimpiku tak pernah lengkap juga. Tidurku yang datang dan pergi tak begitu jelas waktunya, mungkin jika digambarkan seperti dalam film “day and night” yang dibintangi Cameron Diaz (jika tidak salah, karena jujur saja au sedikit pelupa untuk urusan film maupun aktornya). Tidur yang dalam waktu cepat dan ditempat yang melaju dengann cepat membuatku sedikit merasa linglung untuk berpikir. Kemudian yang kudapati hanya segelas popmie yang telah berkali-kali lewat dan berhasil membangunkan tidurku yang berkali-kali pula. Ah,,, kantong ajaibkereta ekonomi, membuatku takan pernah takut bisa mati kelaparan meskipun bisa saja, tapi tetap saja dengan kemungkinan besar jika aku menjadi si papa, karena aku didalam kereta. Kertapun kini telah selesai menjalankan tugasnya, mengantarkanku (dan tentu saja penumpang lainya) kekota yang menjadi pilihanku untuk melengkapi mozaik hidup (jika boleh meminjam istilah Andrea Hirata yang kusepakati). Kereta ini pula yang telah mempertontonkanku pada pemandangan-pemandangan indah bukan hanya karena telah melewati bentangan alam nusantara yang indah, dan juga perasaan-perasaan yang indah dari pada bersalah atau hanya berkeluh kesah. Kantong ajaib kereta ekonomi, kupikir akan abadi hingga bangsa ini tak perlu lagi menjadi bangsa “kuli”. Kantong ajaib kereta ini menjadi atlas tak terbatas untuk memahami hidup yang katanya tak mudah ini. Maka patutlah kuberikan sedikit saran untuk yang belum pernah menaiki dan menikmati naik diatas kereta ekonomi (daripada kelas eksekutif yang menyendiri dan dingin) biar bisa merasakan bagaimana kantong ajaib itu bekerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

make my words correct and nice to read by comment my words. please suggest me to do something for my progress.thank you mates... ^^

Pengikut