“untuk apa kita hidup, atau hidup kita untuk apa?” pertanyaan yang lazim dan sangat sering kita dengar ditelinga kita diantara berbagai dunia. pertanyaan yang sering terlontar bukan hanya dari mulut seorang kiai, akademisi, politisi, atau bahkan tukang las pinggir jalan. Pertanyaan yang lebih sering kudengar dengan jawaban “ya hidup kita untuk apa, ya untuk mengabdi pada yang bikin hidup. Jangan seperti hidup untuk makan, tapi makan supaya hidup”.
Mendengar jawaban semacam itu saya jadi berpikir (dan memamg bukan pikiran pertama), apakah makan itu memang untuk hidup atau saya lebih setuju jika hidup kita itu untuk makan dan membiarkan diri seumur hidup hanya untuk membahas, membicarakan, mmemperdebatkan, mendiskusikan makan thok. Ada yang tidak sependapat? Silahkan, wong ini negara demokratis yang paling dmokratis sampe ngatain presiden kita seperti keb saja tak masalah, negara demokratis yang nyawa hampir dihargai gratis.
Hidup ini susah, karena penghasilan yang murah, pekerjaan yang tak ada, pengangguran dimana-mana. Yang namanya susah adalah susah untukk mendapatkan penhasilan untuk membeli kebutuhan hidup seperti tempat tinggal, pakaian, dan pangan alias perut. Orang miskin dan kelaparan menjadi masalah, dimanapun hingg terbentuk kosmopolitan untuk saling memberi makan lintas kebangsaan.
Pak kiai bilang “ dalam hadist disebutkan ‘ketika kita hendak sembayang sedang makanan telah tersaji maka lebih baik mendahulukan makan’” alasanya biar sembayang nananti bisa khusuk tanpa kelaparan, tanpa mengingat-ingat apa yang tersaji dimeja makan, biar khusuk hanya mengingat Tuhan. Tapi toh perut didahulukan ketimbang Tuhan, padahal katanya tadi “hidup ya untuk mengabdi sama yang bikin hidup”.
Terus politisi apalagi teoritisi ngomong kalau demokrasi hanya dapat berjalan dan diterapkan dinegara-negara maju alias yanng taraf hidup masyaraaktnya bisa dibilang makmur. Demokrasi tidak dapat hadir dan berjalan lancar dinegara-negara yang dengan basis ekonomi yang lemah. Masyarakat di negara dunia ketiga atau miskin susah untuk diajak berdemokrasi. Seperti dalam pemilihan umum, masyarakat miskin akan merasa mubadzir atau percuma untuk datang menggunakan hak suara atau hak pilihnya ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Karena mereka pikir dengan datang ke TPS sehari itu adalah pekerjaan sia-sia dan membuang-buang waktu, padahal dalam waktu sehari itu mereka bisa mendapatkan pengasilan katakanlah seratus ribu, sedang jika dia datang ke TPS maka dia tidak bekerja dan tidak mendapatkan penghasilan barang sepeserpun. Atau dalam kasusu perbandingan terbaliknya. Masyarakat miskin datang ke TPS bukan untuk hal-hal yang percuma. Mereka aakan datang dan memilih partai atau calon legislatif atau calon pemimpin yang mencalonkan diri yang memberikan uluran tanga. Semakin panjang uluran tangan semakin berssemangat masyarakat mendatangi TPS. Ini memang money politics elit politik licik dan bukan ciri dan nilai demokrasi itu sendiri. Kenapa terjadi seperti ini?, karena masyarakat miskin butuh uang segar, cepat, dan mudah. Kenapa? Karena mereka lapar, perut lagi. Jadi untuk masalah demokrasipun perut menjadi penting untuk mengatakan dan mengibarkan panji demokrasi, terlebih dibumi pertiwi.
Pandangan ini menjadi sedikit berbeda saat melihat atau menyaksikan aksi orasi aktivis mahasiswa dijalanan yang menimbulkan semangat, patriotik, dan terpacu rasa empati dan simpati kita saat dalam orasi yang berkobar dalam demonstrasi itu mahasiswa berdemo dan menggugat mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah seperti kenaikan BBM yang akan sangat memengaruhi harga-harga bahan pokok yang merupakan kebutuhan pokok alias primer yang intiya adalah masalah perut. Kemudian kita akan terguggah masih dengan semangat para mahasisiwa yang menuntutu pendidikan murah, menggugat kapitalisme pendidikan, karena kalau pendidikan murah semua lapisan masyarakat bisa mengenyam dan menjangkau pendidikan. Kalau pendidikan bisa dijangkau semua masyarakat maka kelakk lapangan pekerjaan menjadi tidak muatahil dengan adanya ketersediaan SDM yng qualifying. Kalau semua bisa memiliki akses terhadap pekerjaan yang merupakan implikasi dari pendidikan yang bisa dienyam maka kebutuhan pokok dapat terpenuhi. Artinya apa?, artinya kita bekerja supaya bisa makan, perut lagi.
Isu-isu yang sekarang selalu diangkat adalah isu-isu yang low politics. Seperti HAM yang selalu dibawa-bawa dan diperjungakan, tak lebih dari perjuanga untuk mempertahankan hidup yang diguunakan untuk makan. Perut oh perut, hadirmu adlah kehidupan yang bergerak. Bilapun engkau masih mengandung perut dalam perut wanita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
make my words correct and nice to read by comment my words. please suggest me to do something for my progress.thank you mates... ^^