Minggu, 24 April 2011

Islam Memaknai Kesetaraan

Trinil atau dipanggil nil adalah nama julukan yang diberikan oleh ayah seorang Kartini padanya karena kelincahan, kegesitanya (Arifin,dkk:2008). Raden Ajeng (R.A) Kartini (1879-1904) telah menginspirasi jutaan perempuan Indonesia bahkan manca negara yang mengenalnya atau paling tidak tahu dirinya. Bukan karena gelar R.A yang ia sandang didepan namanya, tapi lebih pada pencapaian yang telah ia bawa untuk menerangi perempuan Indonesia yang telah lama diperbudak tradisi. Tradisi yang memasung kita untuk hanya berada dibawah kaum laki-laki. Lentera yang menyerukan perubahan diri untuk perempuan ini kita kenal emansipasi.

Sungguhpun jika kita mengenal Islam lebih dekat kita tak akan pernah mempertanyakan kedudukan kita atau kesetaraan kita dengan laki-laki, karena apa? Seseungguhnya Islam telah mengatur dengan indah harkat, martabat, kedudukan, dan statusserta keistimewaan perempuan dengan laki-laki. Perempuan disebut sebanyak tiga kali untuk dihormati dibanding laki-laki, itu tersurat dalam sebuah hadits nabi yang memerintahkan kita untuk menghormati ibu, ibu, dan ibu kita terlebih dahulu barulah ayah kita kemudian.

Perempuan masa kini telah terkonstruksi untuk selalu menyamakan diri dengan laki-laki, dan bahkan mengunggulinya. Pemikiran ini telah disemai oleh peradaban barat dan dipupuk dinegeri kita oleh R.A Kartini. Tidak ada yang buruk emansipasi itu ketika persamaan kesetaraan perempuan dan laki-laki yang ingin dicapai masih dalam ambang normal syar’i Islam bagi umat Muslimah. Seperti telah terjadi salah tafsir atas perjuangan Kartini dalam mengusahkan kemuliaan bagi perempuan Indonesia, yang Kartini sadari yang menjadi kebutuhan dan perbudakan tradisi bagi permpuan Indonesia adalah perihal pendidikan, tak lebih. R.A Kartini tak pernah membantah suaminya. Akan menjadi malapetaka adalah ketika perempuan menginginkan kedudukan yang jauh lebih tinggi dari laki-laki seperti imam masjid atau sekedar imam rumah tangga. Banyak perceraian terjadi ketikan perempuan berharap kelebihan itu. Perempuan inilah yang menolak untuk bersinggasana didalam dapur atau menuntun anak-anak mereka kesekolah. Perempuan yang lebih menganggap bekerja diluar rumah dan membiarkan suami mengurusi rumah adalah hal hak asasi dan kesetaraan.

Telah jauh hari saat Islam datang ia tak pernah memungkiri keistimewaan perempuan dan mendudukanya dalam tempat terhormat. Bahkan jauh sebelum Islam datang seorang fir’aun yang durhaka terhadap Tuhan-nya pun membiarkan hidup perempuan-perempuan dan anak perempuan saat ia menuruti nasehat para penasehatnya untuk membunuh semua anak laki-laki yang ditakwilkan dari mimpi Fir’aun yang dalam takwil mimpinya ia melihat akan ada seorang anak laki-laki merampas mahkotanya dari atas kepalanya (lihat Q.S 7:127, 28:4, dan 2:49). Bagaimana mungkin jika Fir’aun saja yang seorang kafir membiarkan anak-anak perempuan dan perempuan-perempuan dewasa tetap hidup yang padahal dia memiliki kemungkinan untuk melahirkan anak laki-laki kemudian Islam tidak memperlakukan perempuan menjadi lebih rendah dihadapanya. Islam bahkan telah mengistimewakanya.

Banyak sekali bertebaran penyebutan kata perempuan dalam ayat-ayat-Nya didalam muhsaf al-Qur’an. Bahkan nama perempuanpun dikenang dan dimuliakan dengan menjadikanya sebagai nama sebuah surat yaitu surat ke-4 (an-nisaa’). Setidaknya ada sebanyak 90 Kali nama perempuan disebut didalam al-Qur’an. Dengan jelas disebutkan bahwa kedudukan perempuan itu sama dengan laki-laki dihadapan-Nya:

“ Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Q.S al-Ahzab:35).

Ancaman dan kabar gembira diberikan bagi setiap umat Islam, baik yang peremuan maupun laki-laki. Dalam hal ini sesuatu yang akan membedakan, dan merendahkan atau mengangkat derajat perempuan atau laki-laki, maupun semua golongan manusia itu hanya tingkat ketaatan pada Sang Khalik yang member hidup. Tidak ada jaminan tiket syurga bagi laki-laki pendosa pun bagi perempuan. Allah SWT. Menjamin tiket kesurga bagi pendosa perempuan dan laki-laki yang telah bertobat kembali pada jalan yang telah ditunjukan-Nya “shirotol mustaqim” dengan menurunkan wahyu dan utusan-Nya untuk meluruskan segenap aqidah dan akhlak manusia pada Tuhanya dan sesama manusia:



“sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan ; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(Q.Sal-Ahzab:73)

Maka seharusnya tidak ada kekhawatiran bagi diri setiap muslimah mengenai kedudukanya dengan kedudukan laki-laki. Setiap jiwa telah memiliki potensi yang sama. Buruk adalah ketiadaan dari kebaikan. Jadi berprasangka buruk terhadap Allah SWT. (seperti merasa rendah kedudukan perempuan dalam Islam) adalah menunjukan kekurang percayaan kita terhadap-Nya. Banyak kalangan yang menyebut-nyebut tindakan peringantan yang diterima oleh perempuan dalam hukum Islam yang menyudutkan Islam mengekang dan memperbudak serta menyakiti perempuan, dan tidak adil dalam pembagian seperti pembagian harta warisan yang memperbolehkan pembagian yang setengah dari bagian anak laki-laki. Tuduhan semacam ini seharusnya tak dapat menggoyahkan keyakinan kita akan Islam, tak memprovokasi kita untuk menjauhi Islam. Boleh jadi orang-orang dengan pikiran semacam ini atau tuduhan seperti ini adalah orang-orang yang tidak atau setidaknya belum mengenali Islam secara benar. Maka alangkah indahnya jika kita masuk gerbang Islam secara kaffah seperti yapa yang telah diserukan oleh Allah SWT. Sendiri dan janganla setengah-setengah.

Pengikut