Minggu, 30 Januari 2011

KERETA API EKONOMI DAN KANTONG AJAIBNYA

Aku sedang menunggu kedatangan kereta api kelas ekonomi “Matarmaja” yang berangkat dari Jakarta dengan tujuan Malang yang akan tiba sepuluh menit lagi dijalur tiga, dan akan tepat dihadapan wajahku yang berdiri diperon dua, jika tepat waktu sesuai jadwal yang tertulis ditiket tentunya, tau sendirilah Indonesia. Lima menit menjelang kedatanganya--menurut tiket lagi—hatiku menjadi semakin gelisah, berdebar, senang, sedih, ingin menangis, dan selusin perasaan lain yang entah kubisa mengejawantahkanya dalam bentuk kata-kata. Bukan apa-apa, ini adalah kali pertama aku akan pergi meninggalkan kampung halaman di Brebes, jauh dari kenyamanan perhatian dan kemanjaan dari Ummi Abbi yang tak pernah perhitungan, kesetiakawanan dari pertalian darah yang terikat mendalam bersama kebersamaan, dan keceriaan bersama rangers-ku, tiga ponakan yang selalu menggembirakan dan tak sealu nurut. Yah,,, ini adalah menjadi detik-detik perpisahanku dengan ke;uarga yang mengantarkanku sampai stasiun Tegal untuk melepas dan meelihat keberangatanku ke kota Malang. Kota yang kuharap apat mengobati dahaga hati untuk menjadi insan berilmi, aku akan kuliah di Malang. Kota yang kuharap pula dapat melengkapi mozaik-mozaik hidupku untuk tujan mimpi yang sering berganti orientasi, maklum saja aku masih sedikit muda.
Dua menti menunggu giliranku naik keatas kereta setelah pak kepala stasiun dari speaker rombeng mengoceh tak terang menginformasikan kedatangan Matarmaja yang segera kunaiki. Demi memastikan mendapat tempat dan kursi yang nyaman bagi adik kecilnya. Abang mengantarku hingga keatas gerbong dan mencarikan tempat duduk kosong yang dapat kutempati. Dua menit yang terasa sangat lama sekali sekaligus sangat singkat. Dua menit yang kuingat selalu lambaian tangan keluargaku melepas keberangkatanku dan bermakna banyak: hati-hati nak, sekaligus adek, sekaligus buklik, cepat kasih kabar kalau sudah sampai, kami akan selalu rindu sama kamu, do’a kami menyertaimu, semoga cita-citamu terwujud, jaga diri baik-baik, hindarai pergaulan yang sembrono, dan masih banyak lagi arti termaksud dalam lambaian tangan dan pandangan mata-mata bening yang sembunyi-sembunyi meneteskan air mata untuku hingga kereta tak lagi dapat terlihat dari kedua lensa mata mereka.
Menjauh dari pandangan keluarga telah memalingkanku pada dunia nyata kembali. Dunia seharusnya dan sesungguhnya aku sedang berada. Dunia dimana aku sedang dalam ruang gerbong kereta dan ruang waktu yang terus bergolak. Ada pemandangan yang nyatanya sedari pertama kakiku menaiki kereta tapi baru sejarang aku menyadari penuh adanya. Kereta yang penuh dengan penumpang. Pria, wanita, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, para remaja perempuan dan laki-laki, nenek-nenenk, kaek-kakek semua komplit terlihat meski hanya disatu gerbong yang tak dapat penuh kulihat tanpa jelas. Wajah mereka satupun tak nampak tak asing bagiku. Semua orang-orang baru dengan wajah yang sudah kuyi dibungkus perjalanan dalam beberapa jam yang kulihat digrerbong kereta yang saat ini menjadi bagian hidupku. Bagaimana tidak, jika saja yang tak pernah diharapkan menimpa, misal kereta ini terjungkal dan aku termasuk yang harus terpanggang plus terapit diantara gerbong kereta laksana burger manusia dengan gerbong sebagai rotinya. Maka musnah sudah cerita hidupku paling sampai kuburan dalam selang beberapa waktu, itupunjika mayatku masih bisa sampai kekuburan karena dapat dikenali, bagaimana kalau tidak?, inilah kusebut bagian hidupku, dan semoga saja tak terjadi.
Lima belas menit pikiran tentang keluarga masih tergambar jelas dihati. Namun perlahan pikiran dan hati mulai disibukan untuk menerima rangsangan-rangsangan yang dikirm neuron dari organ mata dang hidung sampai telinga yang menjadi gerbang masuknya rasa yang kemudiang dipikirkan dan adakalanya menjadi karya yang tercipta karena karsa, seperti sekarang ini, dasyat memang. Melihat penumpang balita dan ibunya dengan wajah kuyu dan lesu sedang menyusu dan disusui sambil merapalkan mantra-mantra tak terang kudengar, seperti kata-kata menyuruh anaknya diam tak rewel karena terlalu sering merengek meminta menyusu. Sang balita yang belum lengkap gigi depanya hanya meringis dan tersenyum melihat wajah ibunya yang sedang kesal. Sang ibupun tak tahan untuk meneruskan merapalkan mantranya dan ikut tertawa bersama bayi ompongnya sambil menciumi kening dan pipi si bayi.
Disisi lain, dibangku seberang tempatku duduk tepat disebelah kanan yang hanya muat untuk ditempati berdua, tak seperti tempat duduku yang diseting untuk cukup bertiga. Ada seorang pemuda dan seorang pemudi yang tampaknya adalah sepasang kekasih, dan tepat dihadapan mereka seorang ibu-ibu dan seorang bapak-bapak duduk yang pun nampaknya sepasang suami istri, sepasang kekasih yang disahkan agama, orang tua, warga, dan negara juga penting untuk akta. Ada pemandangan yang berbanding terbalik diantara dua pasngan itu. Sipasangan muda-mudi yang menurutku belum resmi dalam institusi dan masih terbilang teri untuk urursan memberi arti masing-masing pada pasanganya (dan semoga usalah dengan persepsi ini) terlihat sangat saling memberi dan melingungi, dan yang paling klasik kubilang “mereka pasti saling mencintai dan menyayangi”. Pada pasangan yang didepanya kulihat mereka kaku seperti sudah saling bosan, atau tau diri untuk tidak mengumbar kedirian didepan khalayak, dan untuk pasangan ini yang klasik kubilang “mereka pasti punya cara sendiri untuk saling menjaga hati”.
Kemudian ada pemandangan lain yang kemudian menjadi favoritku. Seorang anak perempuan mungkin sekitar delapan hingaa sepuluh tahun usianya, dengan wajah yang seperti hampir kesemua penumpang pun kini aku yangmasih penumpang baru, lesu dan sedikti berminyak dengan rasa yang mungkin tak ada rasa lelah ia sedang memijiti ibunya yang sedang tidur. Jika mungkin ia merasa lelah memijit-mijit tangan dan kaki ibunya, lantas ia akan memandangi wajah ibunya penuh arti yang sedang tidur sembari tersenyum --mungkin sangat mencintai ibunya kurasa—menjadi pemamdamgam yang langka. Begitulah mestinya seorang anak terhadap orangtuanya berlaku kupikir. Terakhir akupun sadar sebelum kantuk menginvasi dan berhasil mendudukiku kemudian, kulihat anak itupun turut pulas dengan mengalungkan tangan ibunya dibahu mungilnya dan bersandar diantara lengan dan ketiak ibunya. Pemandangan indah yang langka yang kudapat dari gerbong kuning ke-lima ini yang kemudian mengantarkan pada mimipi-mimpiku yang tak teratur dan tak bersambung.
“popmie,,, energen,,, kopi,,, milo,,, “ kudengar suara itu semakin riuh dan bersaut bergantian, dan parahnya berulang-ulang. Membuyarkan tentu saja tidurku yang tak karuan, tidur yang terasa panjang dari jam setengah tujuh hingga jam delapan malam. Lewatnya beberapa penjual popmie dan beraneka ragam minuman panas bubuk-bubuk warna-warni dari sashet-sashet untuk seduhan instan ini mneyadarkan lagi dalam alam pikirku akan kehadiran manusisa-manusia yang berwira-wiri sedari pertama kaki ini kuinjakan diatas gerbong kereta. Orang-orang yang datangnya dari dari arah entah-berantah-sebenarnya si datang dari depan atau belakang- dan dilengkapi dengan berbagai barang pegangan yang ditawarkan dengan berteriak-teriak kencang, dan tentu saja diperjualkan. Terus terang, sedikit banyak kurasa para penjual ini mulai mengusik alam intelejensiku selain alam tidur yang membutuhkan ketenanganku. Aku berpikir dan bertanya dari mana orang-orang para penjual ini datang?, bagaimana mereka dapat menjual barang dagangaanya dengan sangat murah?, dari mana pula rombongan pengamen ini masuk dan datang?, kenapa mereka berombong tak solo saja biar untung sendiri?, dari mana bapak berseragam biru dengan emblem DISHUB dikanan atau diatas sakunya-entahlah aku sedikit lupa letak pastinya- itu datang sambil menawarkan terkadang makanan, atau minuman, dan terkadang bantal?, waw,,, kenapa ada orang tiba-tiba datang dan menyapu lantai kereta?, namun selang beberapa menit kembali dan menengadahkan plastik bungkus permen untuk menerima receh, rupanya ngamen sapu orang-orang ini. Lalu kenapa dikereta banyak yang datang tiba-tiba dan pergi entah kemana bergantian menawarkan kerupuk pasir, kerupuk tahu, dodol, jenang, kerak, brem, wingko babat, pensil, buku tulis, buku bacaan, bolpoint, pisau dapur, korek, gunting, gethuk, es, keripik, tahu mentah, onde-onde, sate kerang, sate 02 yang kemudian kutahu adalah sate bekicot, tempura, telur putuh, manisan mangga, tahu seumedang, rubik, gasing, pistol-pistola, TTS, koran. Wah,,, aku bingung mana lagi yang belum sempat kusebut. Aku bingung, kenapa?, dari mana?, bagaimana?, kok bisa?. Sungguh komplit dan tak perlu takut kelaparan, mati gaya kehabisan kegiatan (ada banyak mainan diperjualkan), tak perlu takut juga kehabisan minuman dan kehabisan duit tentu saja, “haha pasar didalam kereta” pikirku. Paling peting aku berpikir pastilah tak hanya doraemaon yang memiliki kantong ajaib, tapi kereta-kereta kelas ekonomi dinegerikupun memiliki kantong ajaib yang jauh lebih besar. Buktinya bukan hanya doreyaki atau baling-baling bambu yang keluar, tapi onde-onde dan penjualnya, ada musik dangdut beserta penabuh alat musiknya dari kecrik, gendang, biola, bass, pluit hingga yang narik duit.
Satu lagi yang tak boleh kulewatkan dari almanak pelajaran dikereta hari ini, dari kereta kelas ekonomi ini pastinya. Kupetik dan kupastikan hanya ekonom-ekonom (kusebut bagi penumpang maupun para “pekerja” didalam kereta ini) yang menaiki kereta inilah para ekonom sejati, lebih dari kaum kapital yang mengendarai liberal. Mereka, para ekonom ini adalah orang yang rela bekerja membagi ladang. Mematuhi atau setidaknya menyepakati betul beberapa lirik yang terdapat dalam lagu milik Serious band yang tak kurang dan mungkin tak lebih “sama-sama cari uang jangan saling sikut-sikutan”, sebuah nasehat atau pengingat singkat yang patut memang untuk diterap. Tak ada superioritas maupun inferioritas. Tak ada antara pemilik kapital besar maupun pekerja, karena semuanya bekerja sama rata, sama-sama merana tepatnya. Mereka menyaringkan suara demi memikat para pelanggan yang “naif”, yang selalu menampakan wajah tak butuh meskipun sudah teramat lapar, yang akhirnya runtuh pula bangunan pertahanan gengsinya. Hiruk pikuk yang mengikuti hentakan laju kereta yang secara alami menjadi melodi seumpama perih maupun peri itu sendiri yang teratur dalam musik. Lagi, mereka adalah ekonom-ekonom kelas ekonomi yang merelakan banyak detik mereka “terganggu” (bisa diartikan sendiri-sendiri) oleh aktifitas yang sesekali sangat memekakan telinga bersama hentakan irama kereta itu dalam waktu yang lain pula menjadi hal yang sangat dirindu, naeh memang. Mereka para ekonom kelas ekonomi mafhum betul hakikat dari hak mereka, “hak yang dibatasi oleh hak orang lain”.
Para ekonom ini kupikir adalah mahluk sosial yang hidup dalam dunia sosial yang sejatinya (meskipun bakalan banyak yang tak sependapat). Memberikan ruang mereka untuk bisa diduduki bersama. Toleransi yang sangat kuhargai dan jarang kutemui. Mereka yang saling memberikan makna kesetaraan dalam egaliter yang dijargonkan negeri demokrasi kita yang jauh dari demokratis. Mereka yang menjadi etalase bagi kemajemukan dalam satu wadah, bangsaku yang utuh dalam Bhineka Tunggal Ika.
Sekali lagi kutak boleh melewatkan, aku telah merasa menjadi bagian dari pusara masyarakat sosial representasi bangsa ini. Bukan membesarkan, tapi kulihat hanya pada mereka kubisa berkaca, berbangga, bersama, berbagi, dan dibagi. Kereta kelas ekonomi inipun telah memberikan peluang bagi ekonom sekaligus masyarakat sosial kita menjadi orang yang bisa memiliki kerendahan hati, dan tak menafikan pun sebaliknya. Berbagi pada si pengangguran seorang tuna wisma.sedikit miris ketika kami yang diilndas krisis akibat dari sesuatu yang tak kami buat, oleh kami ekonom mlarat. Mereka yang dengan mata tertutup seolah sedang mengaduk undian didalam mangkok memcari dan berusaha memperoleh peruntungan dengan mengaduk-aduk ekonomi negara yang dampaknya menimpa kita. Lalu dengan keadaan yang seperti ini, yang patut dan niatlah kami mengadu pada “abdi” negara ini tapi malah tak dinyana bapak ini yang sebutanya bapak nomer satu malah mengadu dan meminta belas kasih kami dengan meminta naik gaji, dan kami kasihi, agaknya “bodoh” kami.
“hem,,, mimpi apa aku?”, ternyata tidurku yang tak pernah lengkap dikereta membuat mimpiku tak pernah lengkap juga. Tidurku yang datang dan pergi tak begitu jelas waktunya, mungkin jika digambarkan seperti dalam film “day and night” yang dibintangi Cameron Diaz (jika tidak salah, karena jujur saja au sedikit pelupa untuk urusan film maupun aktornya). Tidur yang dalam waktu cepat dan ditempat yang melaju dengann cepat membuatku sedikit merasa linglung untuk berpikir. Kemudian yang kudapati hanya segelas popmie yang telah berkali-kali lewat dan berhasil membangunkan tidurku yang berkali-kali pula. Ah,,, kantong ajaibkereta ekonomi, membuatku takan pernah takut bisa mati kelaparan meskipun bisa saja, tapi tetap saja dengan kemungkinan besar jika aku menjadi si papa, karena aku didalam kereta. Kertapun kini telah selesai menjalankan tugasnya, mengantarkanku (dan tentu saja penumpang lainya) kekota yang menjadi pilihanku untuk melengkapi mozaik hidup (jika boleh meminjam istilah Andrea Hirata yang kusepakati). Kereta ini pula yang telah mempertontonkanku pada pemandangan-pemandangan indah bukan hanya karena telah melewati bentangan alam nusantara yang indah, dan juga perasaan-perasaan yang indah dari pada bersalah atau hanya berkeluh kesah. Kantong ajaib kereta ekonomi, kupikir akan abadi hingga bangsa ini tak perlu lagi menjadi bangsa “kuli”. Kantong ajaib kereta ini menjadi atlas tak terbatas untuk memahami hidup yang katanya tak mudah ini. Maka patutlah kuberikan sedikit saran untuk yang belum pernah menaiki dan menikmati naik diatas kereta ekonomi (daripada kelas eksekutif yang menyendiri dan dingin) biar bisa merasakan bagaimana kantong ajaib itu bekerja.

Jumat, 21 Januari 2011

dilangkahi

Dilangkahi

Kakak beradik itu sedang berseteru, dibelakang kepala mereka ditumbuhi sungut
Kelamin merekalah yang membuat mereka begitu.
Siti yang sudah lebih lama hidup
Yang harusnya lebih dulu menempuh hidup baru
Meradang ia dengan joko, adik kecilnya , dulu

Terekam dalam hujatan perawan tua
Mengais belas tak jua ia terima
Cemooh memalingkan wajahnya dari pandangan
Ia perempuan yang dilangkahi

Tak tahan menjadi malu
Menetap hatinya untuk segera berlari
Mengasing diri dari yang mengenalnya
Hidupnya nelangsa
Ia dilangkahi sekali, malunya tak mari-mari*



*mari-mari=selesai-selesai,atau sembuh-sembuh,hais-habis.

19des’10
Lisvy NAEL

Dilangkahi

Sejak peristiwa kedatanganaya kerumah, suasana rumah menjadi gerah. Seperti tak ada udara segar untuk bernafas meski Cuma setengah hisap batangan hidung. Ruangan empat kali enam dengan jendela besar menatap jalan yang terhalang rindang pohon mangga yang biasanya menyegarkan, semakin sesak sempit kini tergerak.
Saat itu dia datang dengan membawa sejuta keberanian untuk mengikatkan tali dengan keluarga kami yang mengharap perubahan besar, pun pada pundaknya yang bhakan belum menjadi keluarga ini. Setelah semua mengiyakan permintaanya, kemudian ruang yang singgasana bagi sofa-sofa dan beberapa lemari hias menjadi hening. Aku bertanya padanya “apa kau yakin, Iman?”. Dengan tanpa berat dan dengan suaranya yang berat dia menjawab “pasti”.
Kepastianya menjawab pasti meruntuhkan atap duniaku. Berat dan sakit semua reruntuhan menimpa dan menenggelamkan tubuhku yang beringsut membenamkan wajah keantara dua lututku yang berjejer. Kelopak mataku hangat dan basah. Air itu merembas melewati celana jeans-ku yang bolong dibagian lutut sebelah kanan. Aku tak bisa terima mendengar semua ini. Dan langkahku bergegas menuju kamar menghiraukan suara yang terus memanggil-manggil nama Lady, namaku, atau Ladya lengkapnya. Kusumbat dengan paksa telingaku yang ingin mendengar percakapan yang terus dilanjutkan diruang tamu, tanpa aku. Kudekap semakin kuat bantal guling yang sudah lepek karena kugilas setiap malam, pun dalm tidurku. Masih deras dan bahkan semakin deras air yang terkurung dalam kelopak mataku keluar, membasahi sebagian bantal yang sedang kutumpangi. Membuatku tak nyaman sendiri, lengket wajahku tertuang air mata.
Aku terus begitu hingga kujumpai pagi mengirimkan sinyal kalau ia telah datang. Jendela yang belum sempat kututup semalam karena terlalu sibuk memeta di bantal menyilahkan sialuan matahari menerpa wajahku yang sembab, dan silauan itu sinyalnya. Aku serasa terantup oleh tawon semalam suntuk. Kantung kelopak mata bagian bawahku semakin menjadi lingkar tahun dalam penanda umur pohon. Menandaskan umurku yang memang sudah tua, berkepala tiga dalam tiga tahun lagi. Aku belum siap untuk mengingat, mendengarkan, dan memikirkan ucapan Iman semalam. Dia ingin menjadi bagian keluarga kami, tapi itu terlalu cepat. Aku belum siap, atau belum kuat tepatnya.
Ibu yang biasanya selalu memperhatikan primbon jawa, hari itu sedang menjadi seorang realistis dengan menanggalakan penanggalan jawanya yang telah lama ia punya dan ia percaya. Ingat, demi harapan besar akan hidup baru yang harus lebih Indah sejak ayah jatuh sakit dan tak bangkit lagi. Ibu yang biasanya akan berkata memelas “ngene lho ndhuk” ia memulai percakapan, perdebatan kurasa. “nek saiki nuruti primbon jawa, tapi sing wes di itung-itung ora dilakon-lakoni yo podo ae dadine”. Terangnya membela diri. Senang sebenarnya melihat ibu tidak sekolot dulu, yang selalu primbon ia dahulukan. Tapi ya kenapa harus dalam masalah ini ia luluh.
Satu minggu yang lalu tepatnya saat iman datang kerumah, dan mengubah hidupku dalam seminggu ini, bahkan akan lebih jika ia benar-benar akan bergabung dalam formasi foto keluarga. Aku menjadi diam dengan ibu yang melahirkanku sendiri, dan pada dua adiku. Belum lagi Aku akan mendapat predikat perawan tua, gak laku, kalah cekatan gaet lanangan atau apalah sejenisnya. Tapi,,,bukan begitu juga kenyataanya. Kalo dibilang perawan tua, ya terlalu tua banget, aku baru 27 tahun. Kalau dibilang gak laku, lalu siapa Doni, Mifta, Nino, Anjas, Malik, dan yang lain-lain?. Kalau dibilang gak cekatan gaet laki-laki, bisa dicek lagi nama-nama yang baru kusebut tadi.
Aku berpikir lagi. Aku hidup untuk apa? Atau hidupku untuk apa? Untuk hal yang nyata atau hanya mimpi?. Sering aku tampar kesadaranku agar kembali pada kehidupan nyata, dimana yang bisa kudapat hanya nama-nama mereka. Tapi lagi-lagi aku harus tertipu dengan manisnya mimpi-mimpi yang dujanjikan sebelum fajar menyingsing. Aku masih mengharap bahwa laki-laki dengan rambut lurus hitam, alis lebat, bulu mata lentik, dan mata cokelat terang. Mewarnai wajahnya yang penuh kepesonaan, dan matanya yang penuh racun, ampuh membuatku hanya ingin tenggelam menyelami samudera matanya yang bening itu.
Uh,,,anadai Iman tak datang malam itu. Anadai dia lebih sabar untuk menungguku sebentar menemukan pasanganku. Semisal saja Iman,,,ah,tapi jahat sekali aku ini menghrapkan kesedihan menimpa pada adiku, Laila yang ingin hidup bhagia dipinang Iman,pacarnya. Adiku akan menikah diumur 23, nikah muda kata orang-orang berpandangan. Meninggalkanku dalam duka, umurku telah 27 tahun tapi belum juga berkeluarga. Oh Tuhan,,, orang Jawa bilang aku dilangkahi. Mereka pasti menggunjingku dibelakang. Biarlah kusetia sampai kedatangan sang pemilik mata coklat bening itu datang serupa Iman untuk Laila.

Kamis, 20 Januari 2011

Perut dan Hidup

“untuk apa kita hidup, atau hidup kita untuk apa?” pertanyaan yang lazim dan sangat sering kita dengar ditelinga kita diantara berbagai dunia. pertanyaan yang sering terlontar bukan hanya dari mulut seorang kiai, akademisi, politisi, atau bahkan tukang las pinggir jalan. Pertanyaan yang lebih sering kudengar dengan jawaban “ya hidup kita untuk apa, ya untuk mengabdi pada yang bikin hidup. Jangan seperti hidup untuk makan, tapi makan supaya hidup”.
Mendengar jawaban semacam itu saya jadi berpikir (dan memamg bukan pikiran pertama), apakah makan itu memang untuk hidup atau saya lebih setuju jika hidup kita itu untuk makan dan membiarkan diri seumur hidup hanya untuk membahas, membicarakan, mmemperdebatkan, mendiskusikan makan thok. Ada yang tidak sependapat? Silahkan, wong ini negara demokratis yang paling dmokratis sampe ngatain presiden kita seperti keb saja tak masalah, negara demokratis yang nyawa hampir dihargai gratis.
Hidup ini susah, karena penghasilan yang murah, pekerjaan yang tak ada, pengangguran dimana-mana. Yang namanya susah adalah susah untukk mendapatkan penhasilan untuk membeli kebutuhan hidup seperti tempat tinggal, pakaian, dan pangan alias perut. Orang miskin dan kelaparan menjadi masalah, dimanapun hingg terbentuk kosmopolitan untuk saling memberi makan lintas kebangsaan.
Pak kiai bilang “ dalam hadist disebutkan ‘ketika kita hendak sembayang sedang makanan telah tersaji maka lebih baik mendahulukan makan’” alasanya biar sembayang nananti bisa khusuk tanpa kelaparan, tanpa mengingat-ingat apa yang tersaji dimeja makan, biar khusuk hanya mengingat Tuhan. Tapi toh perut didahulukan ketimbang Tuhan, padahal katanya tadi “hidup ya untuk mengabdi sama yang bikin hidup”.
Terus politisi apalagi teoritisi ngomong kalau demokrasi hanya dapat berjalan dan diterapkan dinegara-negara maju alias yanng taraf hidup masyaraaktnya bisa dibilang makmur. Demokrasi tidak dapat hadir dan berjalan lancar dinegara-negara yang dengan basis ekonomi yang lemah. Masyarakat di negara dunia ketiga atau miskin susah untuk diajak berdemokrasi. Seperti dalam pemilihan umum, masyarakat miskin akan merasa mubadzir atau percuma untuk datang menggunakan hak suara atau hak pilihnya ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Karena mereka pikir dengan datang ke TPS sehari itu adalah pekerjaan sia-sia dan membuang-buang waktu, padahal dalam waktu sehari itu mereka bisa mendapatkan pengasilan katakanlah seratus ribu, sedang jika dia datang ke TPS maka dia tidak bekerja dan tidak mendapatkan penghasilan barang sepeserpun. Atau dalam kasusu perbandingan terbaliknya. Masyarakat miskin datang ke TPS bukan untuk hal-hal yang percuma. Mereka aakan datang dan memilih partai atau calon legislatif atau calon pemimpin yang mencalonkan diri yang memberikan uluran tanga. Semakin panjang uluran tangan semakin berssemangat masyarakat mendatangi TPS. Ini memang money politics elit politik licik dan bukan ciri dan nilai demokrasi itu sendiri. Kenapa terjadi seperti ini?, karena masyarakat miskin butuh uang segar, cepat, dan mudah. Kenapa? Karena mereka lapar, perut lagi. Jadi untuk masalah demokrasipun perut menjadi penting untuk mengatakan dan mengibarkan panji demokrasi, terlebih dibumi pertiwi.
Pandangan ini menjadi sedikit berbeda saat melihat atau menyaksikan aksi orasi aktivis mahasiswa dijalanan yang menimbulkan semangat, patriotik, dan terpacu rasa empati dan simpati kita saat dalam orasi yang berkobar dalam demonstrasi itu mahasiswa berdemo dan menggugat mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah seperti kenaikan BBM yang akan sangat memengaruhi harga-harga bahan pokok yang merupakan kebutuhan pokok alias primer yang intiya adalah masalah perut. Kemudian kita akan terguggah masih dengan semangat para mahasisiwa yang menuntutu pendidikan murah, menggugat kapitalisme pendidikan, karena kalau pendidikan murah semua lapisan masyarakat bisa mengenyam dan menjangkau pendidikan. Kalau pendidikan bisa dijangkau semua masyarakat maka kelakk lapangan pekerjaan menjadi tidak muatahil dengan adanya ketersediaan SDM yng qualifying. Kalau semua bisa memiliki akses terhadap pekerjaan yang merupakan implikasi dari pendidikan yang bisa dienyam maka kebutuhan pokok dapat terpenuhi. Artinya apa?, artinya kita bekerja supaya bisa makan, perut lagi.
Isu-isu yang sekarang selalu diangkat adalah isu-isu yang low politics. Seperti HAM yang selalu dibawa-bawa dan diperjungakan, tak lebih dari perjuanga untuk mempertahankan hidup yang diguunakan untuk makan. Perut oh perut, hadirmu adlah kehidupan yang bergerak. Bilapun engkau masih mengandung perut dalam perut wanita.

Sabtu, 01 Januari 2011

Dilangkahi

Kakak beradik itu sedang berseteru, dibelakang kepala mereka ditumbuhi sungut
Kelamin merekalah yang membuat mereka begitu.
Siti yang sudah lebih lama hidup
Yang harusnya lebih dulu menempuh hidup baru
Meradang ia dengan joko, adik kecilnya , dulu

Terekam dalam hujatan perawan tua
Mengais belas tak jua ia terima
Cemooh memalingkan wajahnya dari pandangan
Ia perempuan yang dilangkahi

Tak tahan menjadi malu
Menetap hatinya untuk segera berlari
Mengasing diri dari yang mengenalnya
Hidupnya nelangsa
Ia dilangkahi sekali, malunya tak mari-mari*



*mari-mari=selesai-selesai,atau sembuh-sembuh,hais-habis.

19des’10
Lisvy NAEL

Dilangkahi

Sejak peristiwa kedatanganaya kerumah, suasana rumah menjadi gerah. Seperti tak ada udara segar untuk bernafas meski Cuma setengah hisap batangan hidung. Ruangan empat kali enam dengan jendela besar menatap jalan yang terhalang rindang pohon mangga yang biasanya menyegarkan, semakin sesak sempit kini tergerak.
Saat itu dia datang dengan membawa sejuta keberanian untuk mengikatkan tali dengan keluarga kami yang mengharap perubahan besar, pun pada pundaknya yang bhakan belum menjadi keluarga ini. Setelah semua mengiyakan permintaanya, kemudian ruang yang singgasana bagi sofa-sofa dan beberapa lemari hias menjadi hening. Aku bertanya padanya “apa kau yakin, Iman?”. Dengan tanpa berat dan dengan suaranya yang berat dia menjawab “pasti”.
Kepastianya menjawab pasti meruntuhkan atap duniaku. Berat dan sakit semua reruntuhan menimpa dan menenggelamkan tubuhku yang beringsut membenamkan wajah keantara dua lututku yang berjejer. Kelopak mataku hangat dan basah. Air itu merembas melewati celana jeans-ku yang bolong dibagian lutut sebelah kanan. Aku tak bisa terima mendengar semua ini. Dan langkahku bergegas menuju kamar menghiraukan suara yang terus memanggil-manggil nama Lady, namaku, atau Ladya lengkapnya. Kusumbat dengan paksa telingaku yang ingin mendengar percakapan yang terus dilanjutkan diruang tamu, tanpa aku. Kudekap semakin kuat bantal guling yang sudah lepek karena kugilas setiap malam, pun dalm tidurku. Masih deras dan bahkan semakin deras air yang terkurung dalam kelopak mataku keluar, membasahi sebagian bantal yang sedang kutumpangi. Membuatku tak nyaman sendiri, lengket wajahku tertuang air mata.
Aku terus begitu hingga kujumpai pagi mengirimkan sinyal kalau ia telah datang. Jendela yang belum sempat kututup semalam karena terlalu sibuk memeta di bantal menyilahkan sialuan matahari menerpa wajahku yang sembab, dan silauan itu sinyalnya. Aku serasa terantup oleh tawon semalam suntuk. Kantung kelopak mata bagian bawahku semakin menjadi lingkar tahun dalam penanda umur pohon. Menandaskan umurku yang memang sudah tua, berkepala tiga dalam tiga tahun lagi. Aku belum siap untuk mengingat, mendengarkan, dan memikirkan ucapan Iman semalam. Dia ingin menjadi bagian keluarga kami, tapi itu terlalu cepat. Aku belum siap, atau belum kuat tepatnya.
Ibu yang biasanya selalu memperhatikan primbon jawa, hari itu sedang menjadi seorang realistis dengan menanggalakan penanggalan jawanya yang telah lama ia punya dan ia percaya. Ingat, demi harapan besar akan hidup baru yang harus lebih Indah sejak ayah jatuh sakit dan tak bangkit lagi. Ibu yang biasanya akan berkata memelas “ngene lho ndhuk” ia memulai percakapan, perdebatan kurasa. “nek saiki nuruti primbon jawa, tapi sing wes di itung-itung ora dilakon-lakoni yo podo ae dadine”. Terangnya membela diri. Senang sebenarnya melihat ibu tidak sekolot dulu, yang selalu primbon ia dahulukan. Tapi ya kenapa harus dalam masalah ini ia luluh.
Satu minggu yang lalu tepatnya saat iman datang kerumah, dan mengubah hidupku dalam seminggu ini, bahkan akan lebih jika ia benar-benar akan bergabung dalam formasi foto keluarga. Aku menjadi diam dengan ibu yang melahirkanku sendiri, dan pada dua adiku. Belum lagi Aku akan mendapat predikat perawan tua, gak laku, kalah cekatan gaet lanangan atau apalah sejenisnya. Tapi,,,bukan begitu juga kenyataanya. Kalo dibilang perawan tua, ya tidak terlalu tua juga, aku baru 27 tahun. Kalau dibilang gak laku, lalu siapa Doni, Mifta, Nino, Anjas, Malik, dan yang lain-lain?. Kalau dibilang gak cekatan gaet laki-laki, bisa dicek lagi nama-nama yang baru kusebut tadi.
Aku berpikir lagi. Aku hidup untuk apa? Atau hidupku untuk apa? Untuk hal yang nyata atau hanya mimpi?. Sering aku tampar kesadaranku agar kembali pada kehidupan nyata, dimana yang bisa kudapat hanya nama-nama mereka. Tapi lagi-lagi aku harus tertipu dengan manisnya mimpi-mimpi yang dujanjikan sebelum fajar menyingsing. Aku masih mengharap bahwa laki-laki dengan rambut lurus hitam, alis lebat, bulu mata lentik, dan mata cokelat terang. Mewarnai wajahnya yang penuh kepesonaan, dan matanya yang penuh racun, ampuh membuatku hanya ingin tenggelam menyelami samudera matanya yang bening itu hingga aku tenang dibalik baying-bayangnya yang hitam.
Uh,,,andai Iman tak datang malam itu. Andai dia lebih sabar untuk menungguku sebentar menemukan pasanganku. Semisal saja Iman,,,ah,tapi jahat sekali aku ini mengharapkan kesedihan menimpa pada adiku yang ingin hidup bahagia dipinang Iman,pacarnya. Adiku akan menikah diumur 23, umur yang masih muda katanya. Meninggalkanku dalam duka, umurku telah 27 tahun tapi belum juga berkeluarga. Oh Tuhan,,, orang Jawa bilang aku dilangkahi. Mereka pasti menggunjingku dibelakang.





25 Des ‘10
“eL”

Pengikut