Jumat, 24 September 2010

तेर्न्यता huJan

KU PIKIR HUJAN

Ku pikir hujan takan turun dibulan Juli
Ku pikir hujan telah usai musim di maret
Ku pikir hujan sudah usai banjiri bumi ini
Ku pikir hujan takan basahi pipiku yang telah lama kering

Ku pikir hujan telah mengalir kelaut
Ku pikir hujan selalu tentang bergembira ria
Ku pikir hujan penuhi tandon-tandon airku
Ku pikir hujan lekat tak asing dengan negriku

Ku pikir hujan takan baringkanku dengan panas
Ku pikir hujan sahabatku dari kecil

Suhu atau temperatur selalu naik, naikan aku pula menjadi lebih temperamen. Dibawah terik panas matahari atau panas duhu bumi sedikit kudisenggol saja telah mampu membuatku melepaskan kunci kandang di kebun binatang. Asu, monyet, kirik, kunyuk, anjing, jancok semua bisa terlepas begitu saja dari rantai mulutku yang terlihat manis dengan senyum yang terasa sinis.belum lagi kentut-kentut yang keluar dari moncong knalpot-knalpot bus, motor, mobil, atau angkot kropyak alias rombeng yang berebut memasuki dan menduduki di singgasana paru-paruku dengan asap rokok yang tak terdeteksi dan asap pabrik yang hitam mendorong bersamaan oksigen yang hendak menolong hidupku.

Peperangan antara kau dan aku semakin sering meletus hanya karena masalah-maslah yang orang pikir sepele,dan tidak buatku. Pernah suatu sore hanya aku jengkel hanya kerena dia datang telat datang menjemputku dan perangpun berkecamuk.
”sudahlah uda, kau jual saja motor bututmu yang selalu membuat bising ditelingaku, memenuhi kuota polusi udara saja”
”enak sekali yah dinda bilang begitu, motor ini kubeli dengan keringatku, tak mungkin aku buang begitu saja” teriakmu tak kalah dengan hasutanku
”siapa bilang kupinta kau membuangnya? Akulah pinta kau untuk menjualnya, gantilah dengan sepeda yang lebih ramah lingkungan” dalihku tak nyambung dengan perihal keterlambatanya.
”aduh dinda,,,uda pakai motor dan telat sedikit saja kau marah-marah tak jelas. Bagaimana bisa uratmu tak tegang manakala kupakai sepeda dan telat selalu menepati janji denganmu? Hahaha” tawa diakhir kalimatmu sungguh menyakiti hatik. Aku memang telah bosan selalu menunggu kamu telat datang, tapi aku selalu sadar yang selalu membuatku marah adalah perubahan iklim ini uda, kau lupa lagi rupanya kalu aku ini aktivis lingkungan hidup. Peperangan sore itu rupanya tak dimenangkan oleh siapa-siapa, olehku ataupun kau, dan konsekwensinya janji yang telah disepakati dua hari sebelumnya pun batal lagi.

Entah aku telah egois mengatasnamakan lingkungan untuk alasan kemarahanku pada motor bututmu yang selalu telat membawamu, atau jangan-jangan aku hanya tersinggung dengan perkataan temanmu beberapa waktu lalu, ”wah,,wah,,katanya pecinta lingkungan tapi motor udamu sangat polutan kau biarkan. Tak pernahkah kau malu meneriakan stop polutan,,stop poluta,,” temanmu yang kritis dan miris. Entahlah, yang jelas sejak saaat itu, atmosper panas semakin meniupkan bara diotaku dan hatiku sehingga semakin sering aku menghujatmu karena motormu. Bukan aku tak sayang padamu uda, hanya saja rupanya aku mulai risih dengan motormu. Aku selalu ingat denghan kata climate change itu, climate change akibat polusi, dan bla,,,bla,,bla yang sering aku kumandangkan dihadapn anak-anak sekolahan.

Bulan lalu saat februari, kau kejutkan aku. Kau datang kerumah dengan membawa bunga mawar beserta potnya, tanpa suara bising yang biasanya keluar dari motormu, kau mengajaku makan malam, dan kuiyakan. Kita duduk diangkot berdesakan dengan penumpang lain seperti biasa kita dulu, dan kau lupa bulan februari itu masih musim penghujan. Kau buru-buru pergi saat gerimis merintik dan menariku hebat sambil kau menepuk keningmu ”alamak,dinda mau hujan ayo kita pulang, nanti motorku kehujanan diparkiran warnet depan rumah dinda”, bukan kepalang kuingin marah saat itu juga, tapi kau terburu berlari melepaskan cengkraman tanganku dan meninggalkanku. Paginya kau menelponkui meminta maaf, adiku bercerita melaporkan karena aku tak mau mengangkat telpon darimu. Bulan februaru sampai maret kulalui dengan mendiamkanmu. Aku tak pernah mengangkat telponmu dan tak pernah membalas smsmu. Saat April tanggal 4 tepat dihari ulang tahunku kau beranikan diridatang kerumah, dengan sepeda yang terdapat keranjang besar didepanya dan kau isi dengan pot mawar yang penuh bunganya. Kau bonceng pula dibelakangmu Mico, keponakan kesayanganmu yang menjadi kesayanganku pula sejak kita bersama, yang selalu membuatku kangen denganmu bermain dengan mico. Bukan Cuma sepeda, mawa, dan mico kau bawa kehadapanku tapi kau bawakan aku juga sebuah boneka tedy bear yang sebesar badanmu yang kau apit diketiak kirimu. Sunggung kurasa dan kupikir dunia telah terhenti sekejap melihat air mata bahagiaku karena melihatmu begitu, dan mrah di awal februari itupun luluh dengan tanpa kusadar. Malam itu kau tak mengajaku keluar makan, cukup menikmati kerak telor mang Ji’ung yang lewat depan rumahku setiap malam, mico sudah terlelap dipangkuanku. Hadiah terindah yang kau beri sejak tiga tahun kita bersama, kau bawa mico si malaikat kecil tidur bersamaku malam ini, karena tak mungkin kau bonceng dengan sepeda dimalam hari,bisa masuk angin dia.

Setelah malam yang membahagiakan itu, kau menghilang tak pernah datang menemuiku. Hanya sms menanyakan kabarku sesekali waktu, setelah kujawab baik dan bertanya kabarmu serta keberadaanmu kau selalu hanya berucap ”jaga dirimu baik-baik sayang”. Setelah malam itu, hingga kini bulan Juni aku tak pernah berhenti merindukanmu dan kejutan-kejutanmu dengan Mico. Tedy yang kau berikan hanya terduduk dipojok ranjangku, mawar yang kau beri telah gugur kelopaknya tinggal batangnya yang masih berdiri kuat dipotnya, dan suara kliningan sepedamu malam itu tak pernah kudengar, pun suara tawa candamu dan rayuanmu lenyap entah kemana angin menyapunya. Apakah ini salah satu setia, arti dari namamu Setya?. Kau memang kupanggil Uda, tapi darahmu mengalir kelemah lembutan kang mas, tidakah kau maknai berartinya namamu dengan setia?.

Hari rabu tanggal 30 Juli jam 3 siang kau menelponku. Kau bilang hendak pulang ke Medan karena ada pemindahan kerja. Hadiah wisudaku yang palingtak kusuka dan menyakitkan. Kau bilang supaya aku menunggumu dijembatan gantung dibelakang kampus kalu iongin mengantarmu ke bandar. Tapi saat kusampai disana pukul 16.13, kau sudah pergi dan mengirimku sebuah sms ”maaf sayang pesawatku terbang jam 16.45, kalau aku menunggumu aku bisa telat, sampai jumpa”. ”jahat,,,jahat kau uda. Kau selama ini kutunggu dirumah, dan ternyata kau malah pergi sekarang”, kumaki dia saat dia angkat telponku dibandara sebelum keberangkatanya, kau hanya diam dan kemudian dan kemudian menghentika umpatan dan kemarahan ku dengan sebuah kalimat ”maaf sayang,sstt,,, aku janji tahun depan aku akan menjemputmu” dan terakhir yang kudengar adalah bunyi tut,,tut,,,tut, menghentikan pembicaraan kita yang singkat tapi menyakitiku. Aku dibius di jembatan gantung ini duduk menangisi pergimu, dan tiba-tiba saja hujan datana, padahal ini akhir Juni. Hujan yang seharusnya telah usai di Maret ini menemaniku menangis dari air mata yang useka dan kutahan diam-diam Sejas April lalu. Malam ini hhjan baringkanku dengan panas yang tak menahan, tedy bear yang kau berikan telah beranjak dari pojok ranjangku dibawa peluku, pipinya basah karena iar mataku tumpah diatas pipinya yang menjadi bantalku. Kupikir hujan takan mendatangiku lagi, kupikir hujan takan jatuh dibul;an Juni, kupikir hujan temanku Sejas kecil.
Saat mataku berkaca-kaca Karena sakit mata :P
LISVI naeL.

Pengikut