Sabtu, 09 Juni 2012

Korupsi Rasa Sambel Terasi

Sepertinya sudah menjadi tabi’at bangsa Indonesia yang gemar dengan jenis makanan-makanan yang pedas dan sambel yang benar-benar sambal alias yang bahan utamanya adalah cabai. Coba saja kita ingat berbagai jenis masakan dari penjuru nusantara dari masakan khas Manado, Padang, Borneo, Bali, dan Jawa yang bukan Solo atau Jogja, kebanyakan adalah makanan yang dimasak dengan bumbu pedas. Coba kita ingat lagi ada berbagai jenis macam sambal yang dimiliki, dari sambal bajak, sambal tomat, sambal ijo, sambal mangga, hingga sambal yang susah untuk menghilangkan aromanya dan paling khas yaitu sambal terasi. Seperti sambal, korupsi juga nampaknya telah dianggap sebagai budaya bagi bangsa ini. Bagaiamana tidak, korupsi yang sudah terjadi dari masa pemerintahan Orde Baru hingga masa pemerintahan detik ini masih saja berlaku dan terasa semakin subur meskipun sudah dipasangi berbagai alat perangkap yang diupayakan untuk menjerat para pelakunya. Korupsi yang sejatinya merupakan penyakit masyarakat sehigga disebut laten ini bukanlah budaya yang sesungguhnya bangsa ini. Tabi’at ini mulai “diajarkan” oleh koloni bangsa ini yaitu Belanda yang terkenal sebagai penjajah paling tamak. Tak heran jika VOC sebagai satu-satunya kamar dagang yang menguasai Nusantara kala itupun tidak mampu mempertahankan eksistensinya. Hal ini tidak lain disebabkan oleh penyakit bernama korupsi yang menjangkiti para pejabatnya. Ajaran “sesat” yang dibawa bangsa penjajah ini ternyata laku keras dikalangan kita. Korupsi dalam 13 buah Pasal dalam UU no. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2000 (KPK: 2006) memiliki 30 bentuk, jenis, atau wajah tindakan yang masuk dalam kategori korupsi. Namun, dari kesemua jenis dan bentuk tindak pidana korupsi ini tidak semuanya diketahui atau disadari oleh hampir semua orang. Korupsi yang umum dan lazim diketahui dan dipahami hanya berupa tindakan suap, penyelewengan jabatan, dan pengadaan anggaran dalam kasus pengadaan barang. Kasus semacam inilah yang paling popular dan banyak terjadi dikalangan birokrasi. Berbgai kasus muncul dan tenggelam seolah semua hanya tayangan iklan komersil di acara-acara televisi swasta yang menghasilkan banyak uang. Kasus tindak pidana korupsi muncul dan memberondong kehidupan gerah masyarakat yang muak akan ruwetnya masalah birokrasi dan pemerintahan. Hal yang menjengkelkan terkadang dari sekian banyak kasus yang dimunculkan banyak pula yang tidak diketahui hasil akhir dari penindakan hukum dari setiap kasus. Ada istilah tobat sambel yang banyak digunakan dikalangan masyarakat kita untuk menyebut orang-orang yang mengaku bertaubat terhadap suatu hal untuk tidak melakukan atau mengulangi suatu hal tersebut, namun dilain waktu dalam kesempatan berbeda dan tentu saja setelah jauh dari efek jera tempo lalu seeorang tersebut mengulangi tindakan yang ia ikrarkan untuk tidak mengulangi. Contohnya seperti seorang maling yang suatu waktu tertangkap basah sedang beroperasi, sehingga ia mendapat hadiah bogem dari penduduk sekitar yang marah. Sehingga sepenangkapanya itu menimbulkan efek jera dalam waktu yang sama sehingga ia berjanji untuk tidak akan mengulangi. Namun, saat ia terbebas dari hukuman kurungan ia kembali tergoda untuk mengulangi perbuatan mengambil hak milik orang lain. Hal ini terlihat berlaku juga pada banyak koruptor yang tertangkap. Banyak koruptor yang seakan mereka menyesali setiap sen yang dia ambil dari hak milik masyarakat saat ia wira-wiri dikursi persidangan. Namun, saat putusan dijatuhkan dan dia hanya mendapat ganjaran kurungan dan denda yang tak sberapa perilaku arogan akan kembali dimunculkan. Dan lagi banyak kasus yang dengan jelas memperlihatkan bagaimana nyamanya hotel prodeo bagi penjahat korupsi sperti yang pernah ditontonkan oleh Artalita Suryani dan kawan-kawan “seperjuangan.” Korupsi ini menjadi rasa sambel terasi karena dari sekian banyak koruptor jika mereka mendapatkan kedudukan lagi saya pikir mereka akan kembali menyalah gunakan jabatan dan kepercayaan yang kembali mereka terima. Kemudian mereka akan terlihat menyesal kembali saat kecuranganya diketahui khalayak. Kejadian ini akan terus berlangsung selama si koruptor tidak benar-benar membenci sambel terasi atau korupsi itu sendiri. Hal yang menambah kemuakan adalah ketika sambal terasi itu dimakan bersamaan dengan pete. Bagaimana cara menjelaskan betapa nikmatnya bagi orang-orang yang gemar makan pete dengan sambel terasi adalah bagaimana anda sedang makan makanan kesukaan anda. Namun bedanya adalah kenikmatan makan pete dan sambel ini hanya dinikmati oleh orang yang makan, sedang aroma pete dan terasinya yang dianggap dan terkenal tidak sedap tercium akan banyak dirasakan oleh orang-orang yang disekelilingnya bukan hanya olehnya sendiri. Hal ini sama saja dengan korupsi yang mana hanya dinikmati oleh segelintir elit saja namun imbasnya merugikan hingga jutaan penduduk yang sesungguhnya bergantung pada dana yang dikorupsi oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab dan tak berperi kemanusiaan. Karena bisa jadi pada setiap sen uang yang dinikmati disitu terdapat satu nyawa tak tertolong yang boleh jadi disebabkan karena gizi buruk, atau mahalnya pengobatan karena dana subsidi itu tidak bisa dijamah dengan gampang menembus birokrasi. 11-11-‘11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

make my words correct and nice to read by comment my words. please suggest me to do something for my progress.thank you mates... ^^

Pengikut