Jumat, 29 Oktober 2010

PENGARUH IKLAN TERHADAP POLA KONSUMEN MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN

I.A Latar Belakang

Dahulu orang dapat mengenal produk terbaru dari sebuah perusahaan hanya dari iklan lewat spanduk atau poster saja, namun kini banyak media yang dapat digunakan oleh produsen dalam kegiatanya mempromosikan produknya, seperti iklan lewat media massa cetak (seperti Koran, majalah, tabloid, dan lain-lain) dan juga media massa elektronik (TV, radio, internet). Perkembangan ini tentu saja sangat menguntungkan bagi banyak pihak, bukan hanya dari pihak pengusaha produk, tetapi juga dari pihak penyedia jasa periklanan tersebut, bahkan iklan-iklan ini dapat pula menguntungkan beberapa pihak (dalam hal ini masyarakat sebagai konsumen) yang memerlukan informasi tentang produk-produk terbaru. Dan yang terakhir disebutkan tadi memang terlalu berlebihan, karena memang kebanyakan orang-orang yang memakai dan menggunakan informasi iini hanya beberapa kalangan saja.

Iklan menjadi sangat penting bagi sebagian orang yang sudah terhegemoni dengan pola hidupnya sendiri, dimana mereka menjadi “budak-budak” nafsunya untuk memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya hanya kebutuhan tersier saja. Dari kebiasaan ini kemudian muncul istilah baru yaitu budaya Konsumerisme. Perubahan pola hidup masyarakat akibat pengaruh budaya lain ini yang menjadi budaya baru merupakan kajian dalam ilmu Sosial yang menarik dan selalu dikaji, karena memang salah satu hal yang dikaji didalam ilmu Sosial adalah perubahan masyarakat.

I.B Rumusan Masalah

Iklan yang muncul tak terbendung di media massa baik media massa cetak maupun media massa elektronik dan atau digital dapat menjadi sebuah masalah baru dalam kehidupan masyarakat sosial, dimana ada banyak pengaruh yang muncul akibat dari tayangan-tayangan iklan ini, salah satunya pola konsumerisme pada masyarakat. Untuk menghindari pola konsumerisme pada masyarakat yang tak terkendali pada masyarakat ini, maka masyarakat perlu disadarkan untuk dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. Artinya masyarakat harus sadar bahwasanya ada hal-hal yang tidak harus dimiliki, karena itu merupakan kebutuhan yang termasuk tersier. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwasanya pola konsumen ini pun berdasarkan kebutuhan zaman yang semakin maju, sehingga masyarakat memerlukan lebih banyak kebutuhan untuk mendukung kehidupanya sehari-hari.

I.C Tujuan Penulisan

Budaya konsumerisme yang sekarang telah banyak melekat pada masyarakat, bukan hanya pada kalangan menengah keatas tetapi juga terjadi pada kalangan menengah kebawah. Dimana pola konsumen masyarakat kemudian menjadi tidak wajar, karena banyak dari masyarakat yang memaksakan untuk terpenuhinya hasrat untuk memiliki dam menggunakan jasa yang yang baru muncul. Pola konsumerisme ini kemudian bisa saja menjadi masalah baru yang muncul dikalangan masyarakat kalangan menengah kebawah, dimana tingkat kesulitan untuk mendapatkan barang konsumsi atau jasa konsumsi lebih sulit untuk terpenuhi, sehingga dapat terjadi tindak criminal dan kejahatan dalam upaya memenuhi kebutuhan “tersier” tersebut.

Dari pengamatan tersebut maka kita perlu mengetahui fenomena apa yang terjadi di lingkungan masyarakat kita, sehingga kita menjadi orang yang peduli dengan masyarakat kita. Masyarakat kebanyakan tidak merasa bahwa mereka kini telah menjadi bagian buddaya baru, yaitu budaya konsumen. Tulisan ini sedikitnya menggambarkan tentang budaya konsumerisme akibat dari kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, dan lebih khusus lagi oleh pengaruh iklan terhadap pola konsumen masyarakat ini. Sehingga dari gambaran umum ini kita dapat memberikan penilaian masing-masing terhadap budaya konsumerisme ini, apakah ini merupakan budaya yang patut kita perangi dan hindari atau kita hadapi.

BAB II PEMBAHASAN

II.A Konsumerisme pada Masyarakat

Konsumerisme yang sekarang telah menjadi gaya hidup atau lifestyle beberapa kalangan sejatinya merupakan pengaruh akibat majunya teknologi. Perilaku ingin selalu memiliki produk-produk terbaru yang sedang booming atau nge-trand yang dilihat dari media informasi seperti tv atau internet dan media massa lainya itupun dapat terjadi karena mengikuti perkembangan kebutuhan hidup manusia itu sendiri. Dalam hal ini pun terdapat pola hubungan fungsionalisme yaitu masing-masing lakon memerankan perananya, dimana produsen membutuhkan konsumen sebagai pasar dan media massa sebagai media promosi, konsumen sebagai manusia yang perlu memenuhi kebutuhan hidaup, dan media massa yang perlu modal yang bisa diperoleh dari produsen. Pola timbal balik ini sangat tidak wajar jika kita kemudian menganggap bahwa pola konsumerisme adalah bagian dari penyimpangan sosial masyarakat. Jika dilihat dari teori mikro pula, ada banyak hal yang secara langsung teori makro tidak dapat menjelaskanya. Pola atau budaya konsumerisme dipandang sebagai budaya menyimpang manakala masyarakat memang telah berlebihan dalam menyikapi situasi yang terjadi di masyarakat. Ada orang-orang yang memenuhi hasrat ingin memiliki hanya untuk sekedar gaya atau untuk meningkatkan pandangan masyarakat tentang status sosial dimata masyarakat itu sendiri, ada yang memenuhi kebutuhanya memang benar-benar karena kebutuhan yang harus dipenuhi, dan ada pula yang hanya karena lapar mata, sehingga sering seseorang membeli barang yang sesungguhnya ia tidak membutuhkanya sama sekali, sehingga terkadang hal ini menimbulkan penyesalan.

Budaya konsumerisme ini sendiri kemudian memunculkan berbagai organisasi atau perkumpulan yang tidak formal dan bahkan jarang yang mengetahui keberadaanya alias hanya kalangan mereka sendirilah yang tahu akan organisasi atau perkumpulan itu. Perkumpulan-perkumpulan semacam ini biasanya bertujuan untuk mempermudah mendapatkan barang-barang yang diinginkan, seperti kolektor

Ada symbol-simbol yang digunakan sebagai symbol budaya konsumerisme, seperti Barbie sebagai salah satu simbol konsumerisme1. Dimana symbol ini mempresentasikan sebagai wanita feminis yang selalu memperhatikan penampilan dan gaya dalam kondisi situasi dan pekerjaan apapun, dan hal ini merupakan produk dari produsen seperti kosmetik,dan fashion. Tidak dapat menolak sepenuhnya tentang argument ini, karena memang kita ketahui bahwasanya Barbie adalah sebuah boneka perempuan yang mempresentasikan kecantikan seorang wanita. Barbie juga telah mampu membuat ukuran kecantikan bagi manusia nyata. Wanita yang cantik addalah wanita yang seperti Barbie, kaki yang jenjang, rambut panjang dan sehat, mata besar, kulit putih, bentuk payudara yang bagus, kulit mulus dan bersih. Orang-orang telah ter-mindset akan ide ini, akan ide tentang standard kecantikan seorang wanita. Sehingga hal ini secara sadar ataupun tidak telah mampu membuat masyarakat berusaha untuk mencapai mutu kecantikan ala Barbie. Pola konsumerisme yang terbentuk kemudian adalah, upaya mempertahankan kecantikan dan keremajaan kulit oleh wanita-wanita, dan perilaku usaha mempertahankan ini salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi produk-produk kecantikan dan produk-produk fashion, dan sepeerti operasi plastic. Sehingga muncul pula individu-individu heteroseksual yang selalu mempertegas penampilan dan eksistensi mereka.

Terlepas dari Barbie sebagai ikon budaya konsumerisme, konsumerisme itu sendiri adalah hal yang dianggap biasa dikalangan wanita, sehingga ada peristilahan “cewek matre”. Tapi hal ini sudah menjadi lumrah dikalangan masyarakat, bahwasanya memang itu sudah menjadi kebutuhan yang seakan primer, padahal pada hakekat pelajaran ekonomi yang dipelajari di bangku sekolah kebiasaan seperti itu merupakan kebiasaanpemenuhan kebutuhan yang sifatnya sekunder bahkan tersier. Dalam hubungan didalam masyarakat bahkan bisa muncul adanya gap atau jurang diantara individu manakala ada beberapa orang yang tak sepemahaman tentang penting atau tidak pentingnya mengonsumsi suatu barang. Seperti perilaku seseorang membeli hp tipe terbaru padahal hp-nya dan fitur-fitur di dalam hp-nya masih terbilang bagus dan baru, ada orang yang berpandangan dan beranggapan bahwa orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang boros dan tidak berpikiran panjang, artinya ia hanya memenuhi hasrat sementara. Karena orang-orang yang sudah terhegemoni dengan kebiasaan mereka yang selalu memenuhi hasrat memperbarui benda-benda koleksinya itu, pada alam bawah sadarnya kemudian mereka memang terhegemoni, sehingga jika suatu saat hasrat untuk memiliki barang-barang baru itu muncul dan mereka belum atau meras tidak mampu untuk memilikinya, maka yang ada adalah rasa gelisah dan resah, karena hasrat mereka tidak terpenuhi ketika itu. Mereka akan selalu dihantui oleh bayang-bayang ingin memiliki yang tinggi, yang hal ini menjadi sebuah ketergantungan dan syndrome. Hal ini sedikit jarang terjadi pada kalangan menengah keatas, karena kebanyakan dari kalangan ini mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka dari yang primer, sekunder, bahkan kebutuhan yang tergolong pada kebutuhan tersier.

II. B Konsumerisme pada Kalangan Menengah Kebawah.

Gejala konsumerisme tidak hanya menimpa kalangan atas, tetapi juga menimpa pada kalangan menengah kebawah. Dimana masyarakat pada kalangan ini bisa menjadi sangat “menderita” manakala ia melihat pada tayangan tv atau media informasi lainya ada produk-produk terbaru yang kemudian mereka tidak dapat memenuhi hasrat untuk memiliki produk-produk tersebut. Dan akibat dari tidak terpenuhinya hasrat ini, kemudian bisa memunculkan masalah sosial baru (dalam pandangan teori makro) seperti tindak criminal dan kejahatan semisal pencurian. Tentunya gejala ini kemudian dipandang berbahaya(dalam pandangan teori makro) didalam lingkungan sosial masyarakat, karena tindak kejahatan dan criminal macam apapun akan dianggap atau di-judge sebagai teori menyimpang tanpa melihat alas an-alasan yang tepat dan sebenarnya.

Masyarakat yang tidak mampu mengendalikan perilaku yang dianggap menyimpang ini harus bersiap diri untuk tidak diterima didalam struktur sosial yang berlaku karena melakukan tindak criminal tersebut karena tindakan mereka diketahui masyarakat luas. Maka yang harus dilakukan adalah “sadar diri” agar tidak menginginkan hal-hal yang kiranya tidak atau susah untuk terpenuhi. Pula dalam masyarakat kalangan menengah kebawah ini dapat mempertegas gap dengan kalngan menengah keatas, karena dalam budaya dan kemampuan financial mereka berbeda.

II. C Bentuk Konsumerisme pada Anak-anak

Tak kalah menearik pembicaraan tentang konsumerisme pada kalangan anak-anak. Anak-anak sebagai korban atau bahkan pelaku konsumerisme memang melakukan tingkah atau poola ini, hanya saja kemudian ia bukan menjadi seseorang yang langsung menjadi pelaku, yaitu ada orang lain yang berperan penting yaitu orang tua sebagai sumber modal pemenuh kebutuhan. Anak-anak adalah objek yang sangat empuk bagi produsen barang-barang untuk anak-anak seperti mainan, snack, bubur, susu, biscuit, dan lain-lainya. Karena anak-anak adalah sesosok manusia yang mempunyai pola pikir yang belum terbentuk sempurna dan memiliki daya rasa ingin tahu(penasaran) yang lebih tinggi dibanding dengan manusia dewasa, sehingga anak-anak lebih mudah tertarik dengan tampilan yang menarik. Dunia anak-anak adalah dunia yang selalu menarik diperbincangkan, saat memperbincangkan dalam pembicaraan tentang konsumerismepun, mereka layak diperbincangkan. Konsumerisme pada anak-anak dapat kita lihat dari perilaku mereka yang selalu ingin memiliki apa-apa yang mereka tonton dalam tayangan tv, mereka akan merengek pada orang tuanya untuk dibelikan barang-barang yang diiklankan di tv. Bahkan karena memang mereka masih sangat polos dan belum mengerti apa-apa sepenuhnya, ketika mereka melihat iklan atau tayangan untuk orang dewasa merekapun ingin mencoba atau memilikinya, dan ini akan sangat membingungkan orang tua untuk menjelaskan hal yang sebenarnya kepada anak-anak mereka. Jadi peranan orang tua sebagai figure of controlling bagi anak-anaknya sangat penting untuk dimainkan, guna membentuk pola pikir anak-anak mereka menjadi orang yang lebih berpikir panjang ketika mereka menginginkan sesutatu.

Tidak menjadi larangan atau sebuah perilaku yang menyimpang sebenarnya konsumerisme itu, yang jelas adalah diposisi mana dan bagaimana kita berada dalam menyikapi majunya informasi dan berbagai pesatnya kemajuan teknologi. Karena ada saatnya memang kita tidak terlepas dari berbagai cecaran kebutuhan, pun anak-anak butuhan yang sebenarnya hanya kebutuhan tersier.

BAB III PENUTUP

III. A Kesimpulan

Kebutuhan manusia sekarang ini sangat fleksibel dan makin tidak terbatas, dimana kemajuan teknologipun menjadi suatu kebutuhan baru yang harus terpenuhi. Namun kemudian memang ada sebagian kalangan yang mengatasnamakan kebutuhan sebagai alasan untuk memiliki atau menginginkan sesuatu yang sedikit berlebihan. Sebenarnya hal ini sah-sah saja dilakukan oleh siapa saja, dan kapan saja. Hanya saja kita sekarang ini dituntut untuk cermat dalam mengonsumsi sesuatu produk, sehinggga tidak menjadi orang yang berbudaya konsumerism yang selalu ingin memiliki dan memenuhinya dengan pertimbangan yang terkadang kurang masuk akal dan sia-sia, sehingga tidak menimbulkan penyesalan yang mendalam karena telah melakukan tindakan yang kurang pertimbangan dan pemikiran yang matang. Namun juga tidak salah apabila mereka melakukan kebiasaan yang terbilang budaya konsumerisme karena kemampuan, namun alangkah lebih indah dan bijak apabila keinginan semacam itu tidak langsung dipenuhi namun lebih mempertimbangkan status sosial dimana masih banyak orang-orang yang kurang mampu dan membutuhkan bantuan diluar keinginan pemenuhan kebutuhan yang sekunder bahkan tersier.

Budaya konsumerisme tidaklah dipandang sebagai penyimpangan, karena memang ini merupakan perilaku individu yang diakibatkan pengaruh kemajuan teknologi, dan memang tidak dapat dipungkiri bahwasanya kita ini sekarang hidup di jaman yang lebih fleksibel dan heterogen, dimana semuanya akan lebih mungkin terjadi. Dalam teori mikro, budaya konsumerisme pada sebagian orang atau masyarakat adalah hal yang biasa dan bisa terjadi.

Pandangan terakhir adalah bagaimana kita sendiri memandang budaya konsumerisme yang secara sadar maupun tidak melekat pada diri kita. Kita perlu menjadi orang bijak yangselalu dapat mempertimbangkan dan memikirkan segala hal dengan cermat dan tepat, agar tidak menjadi orang yang egois dan menyesal.

III. B Kritik dan Saran

Dalam penulisan makalah ini penulis akui tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan, sehingga kritik yang membangun dari pembaca sangat saya harapkan dan butuhkan, bukan kritik yang menjatuhkan. Kritik yang menjatuhkan tidak saya tanggapi karena akan dapat mengurangi semangat belajar saya. Tidak hanya mengharap kritik yang membangun, tetapi juga saran guna memperbaiki kesalahan yang secara tidak sengaja ini.

PENGARUH IKLAN TERHADAP POLA KONSUMEN MASYARAKAT


Segala puji hanya milik Alloh SWT. Dialah Dzat yang telah memberikan nikmat yang tak terhitung, sehingga jika digambarkan banyaknya dengan nikmat-Nya yang ditulis dengan air laut sebagai tinta, langit sebagai kertas, dan batang pohon sebagai pena maka tidaklah cukup kenikmatan-kenikmatan itu kita tuliskan. Salah satu nikmat terbesar yang penulis rasakan adalah nikmat iman, sehat, dan kesempatan. Sehingga dengan nikmat ini saya dapat menyelesaikan tugas Ujian Akhir Semester(UAS) Bahasa Indonesia ini.

Terimakasih saya ucapkan pula untuk bagina Rasululla SAW, manusia sempurna yang telah menuntun jalan hidup kita sehingga sampailah cahaya Islam kepada kita. Semoga salawat dan salam selalu tercurah untuk beliau. Tidak lupa juga terima kasih juga saya sampaikan untuk kedua orang tua saya yang tidak pernah lelah untuk berharap dan berdo’a demi kebaikan saya, dan selalu mendukung dan member pertimbangan atas langkah-langkah yang hendak saya lakukan. Terima kasih tidak lupa saya sampaikan untuk saudara-saudara dan teman-teman yang selalu mendukung dan member warna dihidup saya.

Perkembangan teknologi yang pesat di era ini telah memudahkan kita dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi perkembangan teknologi di bidang komunikasi dan informasi yang semakin tak terbendung telah memudahkan kita dalam mendapatkan dan menerima informasi dari belahan bumi manapun. Kemajuan ini pula dimanfaatkan oleh para pelaku usaha atau kapitalis dalam memasarkan produknya. Smakin mudah kapitalis ini mempromosikan produk mereka kepada khalayak, seperti lewat media periklanan di televisi (TV), internet, dan atau lewat media massa cetak (Koran, majalah, tabloid, dan sejenisnya). Dalam memandang fenomena kemajuan teknologi ini (iklan lewat media massa) timbul pengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat dewasa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

make my words correct and nice to read by comment my words. please suggest me to do something for my progress.thank you mates... ^^

Pengikut